Langsung ke konten utama

Remember Me #4 Versi CakShill



***

“Kalo gue jadi lo, gue gak bakal sia-siain Dokter Cakka. Masa lo gak naksir dia sedikitpun, sih?”

Suara Angel membuat Shilla menghentikan kunyahan sandwich miliknya di dalam kelas. “Gue gak suka sama dia, Ngel. Dia itu dateng tiba-tiba trus sok akrab banget sama gue. Gimana gue gak risih?”

“Itu kan karna dia tunangan lo, Shill. Ya jelas aja dia akrab. Apalagi kalian kan udah tunangan dari SMA.”

“Tapi gue gak inget sama dia, Ngel. Gue gak nyaman aja sama sikap dia. Gue masih ngerasa asing,” Shilla menunduk. Menatap sepasang flat shoes putih yang ia kenakan hari ini.

“Emangnya lo bener-bener gak inget apapun sama dia? Atau perasaan lo jadi beda gitu pas di deket dia?”

Shilla menggeleng pelan.

“Bukannya kata Dokter Kaka, penderita amnesia kayak lo masih bisa ngerasain sesuatu yang berkaitan sama hal-hal yang lo lupain itu?” tanya Angel. Mengingatkan pembicaraan mereka berdua dengan salah satu dosen beberapa hari yang lalu mengenai jenis amnesia yang diderita Shilla.

Shilla mengendikkan bahu. “Gak tau juga. Tapi sampe sekarang, gue belum ngerasain apa-apa. Inget apalagi.”

“Kasian banget yah Dokter Cakka,” ujar Angel. Matanya menerawang.

“Eh, lo mestinya kasihan sama gue! Kan gue yang amnesia. Ngapain ke Cakka?” sewot Shilla. Ia melempari wajah Angel dengan sepotong roti.

Angel tertawa sesaat. Baru berniat membalas sahabatnya, sang tokoh utama perbincangan mereka sudah muncul di pintu ruangan.

***

            “Selamat pagi, adik-adik...” sapa Cakka sembari melangkah memasuki ruang kelas. Senyum manis menghiasi wajahnya yang disetel penuh wibawa.

“Pagi, Dokter...” balas seisi kelas kompak. Kecuali Shilla yang memilih bergeming.

Cakka melirik Shilla yang membuka diktatnya dengan ogah-ogahan. Lalu tersenyum tipis. “Baiklah, hari ini kita akan membahas masalah trauma akibat kecelakaan.” Ia menulis materi kuliahnya besar-besar di whiteboard.
“Apakah ada yang pernah mengalami kecelakaan di sini? Sampai trauma, mungkin?” Cakka membalikkan tubuhnya ke arah mahasiswa-mahasiswi yang duduk menghadap ke arahnya di depan kelas.

“Shilla, Dok!” sahut Angel cepat sambil menunjuk wajah perempuan yang duduk di sampingnya.

Yang ditunjuk langsung sewot. Memandangi sang pelaku dengan sorot membunuh. Membuat Angel hanya membalasnya dengan cengiran lebar dan dua jari yang mengacung ke udara. Melambangkan tanda damai.

“Saudari Ashilla Zahrantiara, bagaimana rasanya mengalami kecelakaan sampai trauma seperti yang diucapkan Saudari Angelica Pieter?” tanya Cakka. Ia memang terkenal sebagai dosen yang suka memanggil mahasiswanya dengan nama lengkap. Biar gampang membedakan, katanya.

Seisi kelas langsung menoleh dan menatap Shilla. Yah, mereka semua memang sudah mengetahui tentang insiden kecelakaan yang menimpa perempuan itu beberapa tahun yang lalu. Namun baru sepekan terakhir ini berita amnesia Shilla merebak.

Shilla menghela nafas panjang. “Biasa aja,” jawabnya singkat.

Cakka mengerutkan dahinya. “Biasa? Apa kamu gak tersiksa sama trauma yang kamu alami pasca kecelakaan?”

Shilla menggeleng. “Menurut saya, trauma yang saya alami tidak mengganggu sama sekali. Tapi setelah kehadiran seseorang dari masa lalu, kehidupan saya jadi terusik dan saya dikhawatirkan mengalami trauma yang lebih buruk,” tandasnya. Ia memandangi Cakka, penuh arti.

“Jadi begitu? Apa kamu tidak memiliki keinginan untuk sembuh dari trauma itu? Kamu mau berusaha, bukan?”

Baru saja Shilla membuka mulutnya, Cakka sudah berbalik menghadap whiteboard dan menulis beberapa sub bahasan mata kuliahnya hari ini. Membuat perempuan itu berkali-kali menyumpahinya di dalam hati.

“Untuk itulah materi ini hadir. Menyembuhkan trauma hebat akibat kecelakaan,” jelas Cakka setelah menuliskan kalimat tersebut di papan tulis.

Shilla mendengus kesal. “Gue kan gak trauma. Gue cuma amnesia. Dasar dokter gila!” gerutunya dengan nada seminimal mungkin.

“Husss!” desis Angel. Mencoba menghentikan omongan sahabatnya sebelum menjadi lebih panjang dan kembali mengundang kehadiran Dokter Cakka di dekat mereka.

***

            “Kamu udah gak ada kuliah lagi?”

Untuk kedua kalinya hari ini, aktifitasnya dalam mengisi perut terganggu oleh dua orang sekaligus. Pertama Angel. Dan sekarang... Cakka.

“Ngapain lo– Eh, maksudnya Dokter ada di sini?” tanya Shilla. Mencoba bersikap sopan. Mengingat sekarang mereka berada di kantin Fakultas Kedokteran.

Sebenarnya, para dosen tidak mungkin berada di dalam kantin ini. Karena mereka sudah difasilitasi sedemikian rupa dengan paket delivery. Maksudnya, saat dosen-dosen tersebut sedang lapar, mereka tinggal menelepon pihak kantin dan menunggu sampai salah satu petugas datang membawakan mereka pesanan yang diinginkan. Itulah sebabnya Shilla heran akan kemunculan Cakka yang notabene adalah dosennya.

“Pengen nanya aja. Kamu udah gak ada kuliah?” Lelaki itu mengulang pertanyaannya.

Shilla berpikir sesaat. Lalu mengangguk.

“Ya udah. Aku juga udah gak ada jadwal ngajar. Kita pulang sekarang,” ajak Cakka sambil meraih jemari Shilla ke dalam genggamannya. Kemudian menuntun tunangannya tersebut berdiri. Mengikuti langkahnya.

“Tapi gue– Maksudnya saya lagi nungguin Angel. Kami mau ke toko buku.” Shilla menahan tangannya yang digenggam erat oleh Cakka.

“Ntar aku yang temenin. Sms Angel aja. Trus ngomong kalo kamu pulang duluan bareng aku,” balas Cakka sambil menarik Shilla agar menurutinya.

Shilla pasrah. Bukan karena sudah berdamai dengan Cakka. Namun ia tidak mau menjadi bahan tatapan dan objek bisikan seluruh pengunjung kantin saat ini.

“Lo lupa yah sama kesepakatan kita?” desis Shilla penuh emosi. Tepat di telinga Cakka yang berdiri di sampingnya.

“Kesepakatan apa?” Cakka balik bertanya. Entah lupa atau hanya pura-pura. Ia bahkan masih menggenggam tangan kanan Shilla dalam perjalanan dari kantin menuju ke area parkir Fakultas Kedokteran. Mengacuhkan tatapan menyelidik orang-orang yang mereka lewati.

“Lo beneran bego, ya? Gue kan udah bilang, gue mau pulang sama pergi ke kampus sama lo asal lo gak ngedeketin gue di sini! Gue gak mau ditanyain macem-macem sama anak kampus gara-gara deket sama dosen tukang tebar pesona kayak lo!” bentak Shilla. Untung mereka sudah sampai di area parkir dan suasana sangat sepi. Mungkin karena sekarang sudah masuk jam kuliah setelah istirahat makan siang.

“Siapa yang tukang tebar pesona?” tanya Cakka. Dahinya berkerut. Antara merasa heran dan geli.

“ELO! Siapa lagi?”

“Bukannya karena aku emang mempesona, ya?”

“YOU WISH!” Shilla memanyunkan bibirnya. Ia masih berusaha sekuat tenaga melepaskan genggaman kuat Cakka dari tangannya. Tapi tidak juga berhasil.

“Kamu bisa gak sih nurutin aku sedikit aja? Jangan suka ngebantah gini. Ntar kalo kita udah nikah, kamu bisa dosa loh ngelawan suami terus,” ujar Cakka. Memasang wajah seriusnya.

“SIAPA YANG MAU NIKAH SAMA LO? JANGAN NGIMPI DEH!!!”

“Husss! Berisik banget! Ntar kalo didenger sama pihak kampus, kamu bisa di-skors, sayang. Kamu lupa kalo sekarang kita lagi di parkiran khusus dosen?”

Shilla sukses dibuat mingkem karena kalimat barusan.

Cakka tersenyum puas di sebelahnya. Lelaki yang siang ini mengenakan kemeja biru muda dan celana katun hitam tersebut membuka pintu mobil untuk Shilla setelah bunyi alarm terdengar.

Shilla menurut. Ia memasuki mobil, menaruh tas putihnya ke jok belakang, lalu duduk anteng menunggu Cakka.

Ia melihat sosok Cakka yang tadinya berjalan memutari bagian depan mobil, ke arah pintu pengemudi di sampingnya. Namun langkah lelaki itu berhenti setelah sebuah suara meneriakkan namanya.

Shilla terus memandangi Cakka yang berjalan menghampiri seseorang yang membuatnya mengurungkan niat memasuki mobil tersebut. Seorang perempuan muda lengkap dengan jas dokter yang kini berdiri di tepi area parkir. Seseorang yang dikenal Shilla sebagai Dokter Ify. Dosennya saat semester tiga dulu sekaligus dokter di salah satu rumah sakit swasta di kota ini.

Ngapain Cakka ngobrol bareng Dokter Ify? Sambil ketawa-ketawa, lagi! Sok akrab banget. Perasaan Cakka belum sebulan ngajar di kampus ini, batin Shilla dengan dahi berkerut. Loh, ngapain aku musingin urusannya Cakka, sih? Kurang kerjaan banget!

Ia lalu memilih mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan sms pada Angel. Memberitahu bahwa ia pulang duluan bersama Cakka. Walaupun pandangannya terus mengamati Cakka dan Dokter Ify yang masih asik mengobrol sembari tertawa-tawa –dari dalam mobil–.
*TBC*

Komentar