Oleh
“Kamu ngomong apa,
sih?” sorak Cakka, meluapkan emosinya. Seharian ini ia sudah dibuat stress
gara-gara masalah rumah sakit, kampus, mobil mogok, Shilla tiba-tiba menghilang
dan pulang bersama Rio, sekarang apa lagi? Perempuan itu membatalkan
pertunangan? Apa tidak cukup masalahnya seharian ini?
“Pertunangan ini gak
bisa aku lanjutin lagi,” balas Shilla. “Maafin aku selama ini.”
“Shilla, please...
Kamu kenapa? Oke, aku minta maaf. Kamu boleh nyuruh aku apa aja. Kamu boleh
mukul aku sampe babak belur sekalipun, tapi kamu jangan mutusin sesuatu dengan gampang!”
Cakka membekap kepalanya sendiri. Membuat rambutnya yang sudah menutupi telinga
jadi berantakan.
Perempuan itu terdiam.
“Asal kamu tau, kita
udah tunangan enam tahun ini. Kamu pikir gampang memutuskan semuanya dalam
waktu beberapa menit aja? Hah?” seru Cakka, frustasi.
“Aku gak inget apapun
tentang kamu.”
“Iya, aku tau! Trus
kamu pikir aku bakal nerima keputusan kamu ini? Gitu? Haha...” Lelaki itu
tertawa hambar. “Kamu sih enak. Kamu gak inget semua tentang aku. Lah, aku?
Kamu pikir aku bisa lupa semuanya secepat ini?”
Air mata Shilla
mengalir lebih deras. Sesenggukan dari bibir mungilnya pun terdengar semakin
keras.
“Loh, kamu kenapa
lagi? Harusnya aku yang sedih. Kamu jangan nangis gitu, dong! Kamu makin nyiksa
aku, tau gak!” Cakka langsung menarik tubuh tunangannya ke dalam pelukan.
Shilla tidak mengelak.
Tubuh dan mentalnya terlalu lemah saat ini.
Lelaki dengan dada
bidang dan pelukan hangat itu mengusap bahu Shilla pelan. “Cup, cup, cup...
Jangan nangis terus, dong. Aku kan udah minta maaf. Kalo ada masalah lagi, kamu
ngomong aja. Pukul aku sekalian. Asal kamu gak sedih lagi,” ujarnya, mencoba
menenangkan.
Shilla langsung
menghela nafas panjang. Entah mengapa, pelukan, usapan, dan setiap kata-kata
yang mengalir dari bibir tunangannya tersebut terasa sangat menentramkan. Ia
lalu menarik dirinya dari rengkuhan Cakka. Kemudian menatap wajahnya dengan
mata memerah dan sesenggukan kecil.
Dahi lelaki itu kontan
berkerut.
“Aku...” ucap Shilla.
Namun langsung berhenti saat ia belum bisa mengontrol sesenggukannya. Setelah
menghela nafas panjang beberapa kali, barulah dadanya lebih ringan. “Sampe
sekarang, aku belum bisa inget apapun tentang kamu. Aku ngerasa sebagai
tunangan yang gagal. Aku takut gak bisa bikin kamu bahagia, sedangkan kamu
selalu ngasih aku semuanya. Kamu rela berkorban apapun demi aku, tapi aku? Aku
gak bisa, kka. Aku–”
Cakka langsung
membekap mulut Shilla dengan bibirnya. Mencegah rentetan kalimat meluncur lagi
dari sana. Membiarkan perempuan itu hanyut dalam ciumannya dan melupakan
ketakutan-ketakutan yang ia alami selama ini.
Tanpa disangka, Shilla
menyambutnya. Membalas ciuman itu dengan membuka bibir. Membiarkan lidah Cakka
mendesak masuk ke dalam sana dan menjelajahi isinya. Bukan hanya itu. Ia pun
menggerakkan lidahnya di dalam mulut lelaki tersebut. Tidak lupa mengulum bibir
atas dan bawah tunangannya.
Cakka sontak mendorong
tubuh Shilla memasuki kamar. Menggenggam belakang kepala perempuan tersebut
sambil terus ‘bermain’ dengan bibirnya.
Shilla ikut
memundurkan langkah. Dengan kedua tangan melingkari leher Cakka dan bibir yang
mengikuti permainan tunangannya itu. Sampai ia terantuk oleh tempat tidurnya
sendiri, dan terduduk di atasnya. Membuat Cakka ikut duduk tanpa sedikitpun
melepaskan bibir mereka masing-masing.
“kka...” ujar Shilla
–lebih berupa desahan– saat ia berhasil mengambil jeda di antara nafasnya yang
memburu.
Cakka ikut menarik
wajahnya. Kedua alisnya menyatu, namun bahunya juga naik-turun. Pertanda hampir
kehabisan nafas.
“Aku...” Shilla
menggantung kalimatnya. Ia menggigit bibir bawahnya sendiri, seakan kehilangan
kata-kata.
“Shilla sayang,” ujar
Cakka. Ia mengelus pipi mulus milik tunangannya sambil tersenyum lebar. “Kamu
gak bisa bayangin gimana rindunya aku sama bibir kamu.”
Kedua alis Shilla
menyatu.
Lelaki di depannya
ganti mengelus bibir mungilnya dengan ibu jari. “Bibir kamu tetap manis. Masih
jadi candu buat aku. Dari dulu, sekarang, dan buat selamanya.”
Wajah perempuan itu
sontak bersemu. Sedetik kemudian, Cakka kembali mendekatinya. Dan semuanya
berubah menjadi perasaan bahagia.
***
Shilla yang pagi itu terlihat cantik –dengan rambut dikuncir kuda dan setelan
long dress berwarna biru toska, serta make-up tipis– sedang mengolesi roti
gandum di genggamannya dengan selai coklat.
“Pagi, sayang...” sapa
Cakka sembari menaruh tas laptopnya di kursi sebelah kanan dan mengecup puncak
kepala tunangannya yang sedang duduk di kursi sebelah kirinya.
“Iya, pagi...” balas
Shilla ogah-ogahan. Ia belum terbiasa dengan sikap Cakka yang seperti itu.
Membuatnya kikuk dengan aksi bak pasangan suami-istri. “Kamu mau pakai selai
apa?” tanya perempuan tersebut seraya meraih setangkup roti di depannya.
“Selainya apa aja,
asal aku bisa makan kamu,” jawab Cakka sambil tersenyum manis. Lalu meletakkan
kedua siku miliknya di atas meja, sebagai pilar telapak tangan yang menangkup
wajahnya sendiri.
“Kata-kata kamu itu,
lebih berasa kayak kanibal daripada ngegombal,” sungut Shilla sambil mengolesi
roti tersebut dengan selai kacang.
Cakka tertawa pelan.
Kemudian mencomot roti yang baru saja diletakkan tunangannya ke atas piring.
“Hari ini kamu ke rumah sakit Bunda lagi?” tanyanya, dengan mulut yang asik
mengunyah.
“Enggak. Aku mau
ngurus nilai di kampus. Katanya Dokter Sheila juga mau ketemu sama aku,” jawab
Shilla. Ia ikut mengunyah roti selai coklat, sambil sesekali meneguk susu
coklatnya.
“Baguslah.” Cakka
menyesap cappucino panas buatan tunangannya.
Dahi Shilla berkerut.
“Maksudnya?”
“Ya, bagus. Artinya
kita bisa lebih sering ketemu. Kalo kamu di rumah sakit Bunda, aku jadi susah
ngedeketin kamu. Banyak dokter kepo. Malesin.”
***
Shilla
membuka diktat tebal di tangannya sembari melangkah menyusuri koridor utama
lantai dasar Fakultas Kedokteran.
“Hai, Shilla.”
Tiba-tiba sebuah suara muncul di sebelahnya.
Perempuan itu langsung
mengangkat wajah. Lalu menemukan senyum lebar milik Rio di sana. “Hai...”
“Kamu lagi ngapain?
Sibuk banget keliatannya.”
Shilla mengacungkan
diktat di genggamannya dengan wajah manyun. “Iya, nih. aku abis konsultasi
masalah akademik sama Dokter Sheila. Trus malah dikasih tugas.” Ia mendesah
keras di ujung kalimatnya.
“Beruntung banget dong
kamu,” balas Rio, berniat mengejek.
“Huh, sialan!” Shilla
mengerucutkan bibir mungilnya.
“Ehem.”
Perempuan dan lelaki
berjas dokter yang tadinya saling tukar tawa tersebut seketika menoleh.
Kemudian mendapati Cakka sedang berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan
dada tepat di belakang Shilla.
“Selamat pagi, Dok...”
sapa Rio. Lengkap dengan senyum manis seraya membungkukkan sedikit tubuhnya.
“Pagi,” balas Cakka.
Terdengar ketus dengan raut wajah yang kaku. Pandangannya beralih ke arah
tunangannya. “Kamu ngapain di sini? Bukannya mau ketemu Dokter Sheila?”
“Ini, abis ketemu.
Tapi aku dikasih tugas, jadi mau balik ke kelas lagi,” jawab Shilla sembari
mengacungkan diktat di tangan kanannya.
“Ya udah. Kamu balik
ke kelas aja. Ntar siang kita lunch bareng, ya!” Cakka mengelus poni
tunangannya yang agak berantakan, sebelum perempuan itu buru-buru beranjak
karena takut memancing perhatian orang-orang gara-gara tingkah calon suaminya
tersebut.
Setelah Shilla
menghilang di tikungan koridor, Cakka ganti menatap Rio, asistennya sebulan
terakhir ini. Memandanginya dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan
pandangan tajam, lalu berkata, “Kamu itu sebaiknya ngurusin mahasiswa-mahasiswi
saya, bukannya malah tunangan saya. Ngerti?”
***
“Ck! Sial!” Rio menendang kerikil di dekat mobilnya dengan segenap emosi yang
sedari tadi minta diluapkan.
“Kamu kenapa, sih?
Ngumpat-ngumpat gak jelas gitu.”
Lelaki itu langsung
menoleh. “Maaf, Dok. Saya lagi badmood,” balasnya ke arah seorang wanita cantik
yang berdiri di sampingnya saat ini. Wanita yang tidak lain dan tidak bukan
adalah Dokter Ify.
“Saya liat kok waktu
Dokter Cakka negur kamu tadi,” ujarnya. “Kamu sabar aja. Bukannya waktu kamu
untuk jadi asisten Dokter Cakka tinggal sebulan lagi? Abis itu, kamu bisa bebas
ngedeketin Shilla secara frontal.”
“Dokter Ify sendiri,
gimana?”
Wanita dengan kemeja
jingga dan rok panjang motif pelangi tersebut hanya tersenyum. “Kita mainnya
pakai cara yang halus aja, Rio. Biarin mereka bahagia dulu, baru kita yang
ngerasain kebahagiaan itu.”
Rio bersandar ke body
mobil mini miliknya tanpa suara.
“Lagian, saya heran.
Bukannya kita abis jalan bareng sama mereka? Kenapa mereka malah gak berantem?
Mereka kan sama-sama cemburuan. Apalagi malem itu kamu nganterin Shilla pulang,
sementara Dokter Cakka kelimpungan nyari dia di rumah sakit. Saya bahkan yakin
sekali kalo mereka pasti bertengkar hebat. Tapi kenapa... jadi begini?”
“Saya juga gak ngerti,
Dok. Kayaknya kita harus berusaha maksimal kalo mau misahin Dokter Cakka sama
Shilla.”
“Saya setuju. Kita
lanjutkan rencana selanjutnya saja.”
***
Shilla membalas senyum pelayan yang baru saja membawakan pesanan. Lalu mulai
meracik bumbu ke dalam kuah baksonya. Gara-gara Cakka harus menemui dekan,
jadilah mereka makan siang sesore ini.
“Jadi Dokter Sheila
minta kamu ngegantiin dia di acara penyuluhan nanti?” tanya lelaki yang sedang
mengaduk mie kering itu.
Siang tadi, Dokter
Sheila menemui dokter ganteng tersebut untuk mengurus jadwal KKN Fanya agar
dipindahkan ke hari lain karena ia meminta gadis itu mengikuti penyuluhan
kesehatan di salah satu daerah. Tanpa pikir panjang, Cakka langsung
mengiyakannya mengingat ia pun akan pergi ke daerah penyuluhan yang tidak lain
dan tidak bukan adalah tempat tinggal mamanya.
Yang ditanya hanya
mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan dari mangkuk di depannya.
“Aku seneng banget,
deh. Berarti kita bisa sekalian ketemu Mama. Dia pasti kangen banget sama
kamu.”
Shilla mengangguk
kuat-kuat. “Aku juga udah kangen banget sama Mama. Sekalian mau belajar masak.
Kata Mama, aku mau diajarin masak makanan kesukaan kamu,” jelasnya berapi-api.
“Emang kamu suka makan apa, sih?” Kedua mata perempuan itu membesar. Penuh
tanya, dan rasa penasaran.
Cakka tersenyum getir.
Menyadari tunangan yang sangat dicintainya sudah melupakan segala hal
tentangnya malah membuatnya semakin sakit. Walaupun ia harus cepat-cepat
menerima kenyataan, bahwa semua ini bukan kemauan Shilla.
Tiba-tiba di tengah
keheningan yang tercipta, Shilla meringis sambil meremas rambut panjangnya.
Lelaki di hadapannya
buru-buru meraih jemari Shilla dengan panik. “Kamu kenapa, sayang? Apanya yang
sakit? Kamu lupa minum obat lagi?”
Perempuan itu tidak
menjawab. Di kepalanya terputar beberapa potong peristiwa yang tiba-tiba hadir
dan silih berganti. Seakan berebutan masuk ke dalam memorinya.
***
“Kamu kayaknya serius banget,” suara Cakka. Ia
terlihat sedang memeluk pinggang Shilla dari belakang. Tepat di depan kompor
berisi panci dan wajan yang sedang ditekuni tunangannya.
“Aku
kan mau jadi istri yang baik. Jadi aku bakal bikin ayam rica-rica sama sayur
sup paling enak sedunia.”
“Emang
makanan buatan kamu bakal lebih enak dari masakan Mama? Yakin?” Lelaki itu
sedang membenamkan wajahnya di leher Shilla, di antara helaian rambutnya yang
dibiarkan tergerai.
“We’ll
see.”
Kemudian,
mereka tertawa bersama.
.....
“Gimana?
Enak?” Perempuan dengan mini dress bermotif anggrek putih tersebut duduk di
depan Cakka sambil menautkan kesepuluh jarinya di atas meja. Wajahnya terlihat
cemas.
Cakka
memasukkan sesendok nasi lengkap dengan potongan ayam rica-rica dan potongan
kentang serta wortel ke dalam mulutnya. Mengunyah sebentar, menerawang,
mengerutkan dahi sejenak, lalu mengalihkan tatapannya ke arah Shilla.
Shilla
langsung berubah tegang. Mulai dari raut wajah, hingga ke cara duduknya.
“Kenapa? Rasanya... aneh?”
Tatapan
Cakka masih setia melekat pada titik di depannya. Tanpa ekspresi. Sampai...
“Kayaknya sekarang aku bisa selingkuh dari masakan Mama yang udah setia nemenin
aku 20 tahun ini.”
***
“Ayam rica-rica sama sayur sup,” lirih Shilla di tengah ringisannya.
“Apa? Kamu kenapa,
sayang?” Lelaki itu masih panik. Beberapa menit yang lalu, ia mendapati
tunangannya terdiam dengan raut yang menahan rasa sakit sambil memejamkan kedua
mata dengan erat dan meremas rambutnya. Kemudian sekarang, perempuan yang
dicintainya itu sedang meracau.
“Kamu... Suka... Ayam
rica-rica... Sama sayur sup?” bisik FanyaShilla lagi. Kali ini, ia memandang
Cakka dengan dahi berkerut.
Cakka mengangguk
pelan. “Kamu tau darimana?” tanyanya heran. “Kamu inget sesuatu?”
Giliran perempuan itu
yang mengangguk.
Tapi baru saja hendak
bertanya lebih banyak, Shilla sudah ambruk ke pelukannya.
***
Shilla bangun keesokan harinya. Sejak pingsan
kemarin sore, tidurnya diramaikan oleh kepingan-kepingan masa lalu. Semuanya
berisi wajah Cakka. namun saking banyaknya, ia sampai lupa apa saja isi
mimpinya saat sudah terjaga.
“Kamu udah bangun,
sayang?”
Perempuan itu kontan
menoleh ke sumber suara. Tempat sang ibu berada.
“Alhamdulillah kalo
kamu udah sadar. Sekarang gimana? Kepala kamu masih sakit? Apa Ibu perlu
panggilin Ayah sama Cakka?” lanjut wanita setengah baya tersebut.
Shilla berusaha
bangkit dan duduk sambil bersandar ke sisi tempat tidurnya. “Gak usah, Bu. Aku
malah ngerasa seger banget sekarang. Udah lama aku gak tidur senyenyak dan
selama ini.”
Ibu mengusap kepala
putri semata wayangnya penuh rasa sayang. Lalu, beliau tiba-tiba teringat
sesuatu. “Oh, iya. Kamu berangkat jam berapa, sayang?”
Alis Shilla kontan
menyatu. “Berangkat? Emangnya aku mau kemana, Bu?”
“Loh, bukannya Cakka
bilang kalian mau ke rumah Mama buat penyuluhan di puskesmas sana?”
Mendengar kata
penyuluhan dan Mama, kerutan di dahi Shilla sontak lenyap. “Ya ampun! Ini udah
jam berapa, Bu? Aku belum siap-siap. Perlengkapan buat seminggu belum di-pack.
Aduh, Bu...” Ia langsung melompat dari tempat tidur. Kemudian berlari
pontang-panting memasuki kamar mandi di sudut kamar, setelah sempat menendang
kursi dan menyumpah tanpa sadar.
***
“Ada apa, Bu?” Cakka muncul di depan pintu tepat saat Shilla menutup pintu
kamar mandi dengan keras.
“Itu, tadi si Shilla
heboh banget pas inget mau penyuluhan ke tempat tinggal mama kamu. Sampe
nendang kursi segala.” Ibu geleng-geleng kepala. “Katanya dia belum packing,
lagi. Ibu mau bantu sih, tapi Ibu sama Ayah kan harus ke rumah sakit sekarang.”
“Ya udah, Bu. Biar aku
aja yang nyiapin semuanya. Kebetulan aku juga udah selesai packing.”
***
Hal pertama yang dilakukan Shilla saat mendapati sesosok tubuh tinggi menjulang
di tepi tempat tidurnya adalah... “Aaaaarrrrrrrgggghhhhh!!!”
Sosok yang tidak lain
dan tidak bukan merupakan tunangannya tersebut kontan menoleh seraya menutupi telinganya
dengan kedua tangan.
“Ngapain kamu di sini?
Aku lagi mandi, tau!” serunya lagi. Berbeda dengan Cakka, ia malah menyilangkan
kedua tangannya di depan dada. Menutupi bagian tubuh yang menonjol di balik
balutan sehelai handuk.
Lelaki itu menurunkan
tangannya perlahan. “Udah selesai teriaknya? Kamu ini udah kayak tarzan, deh.”
Ia kembali sibuk dengan tas besar di tepi tempat tidur milik tunangannya.
“Kamu bilang apa? Aku
kayak tarzan?” Mata Shilla kontan membesar. Tidak terima.
“Kalo aku tarzan, kamu
apa? Pemerkosa yang masuk kamar orang tanpa izin? Pas calon korbannya lagi
mandi, iya?”
Cakka sontak berbalik
dan menatap perempuan di depannya. “Pemerkosa, hah?” tanyanya datar. Lalu
melangkah pelan mendekati perempuan dengan rambut basah dan tubuh seksi
berhanduk putih itu.
Radar Shilla spontan
menangkap sinyal mesum pada aksi lelaki tersebut. “Jangan deket-deket! Aku
bakal teriak, nih! Stop there!” soraknya sambil mengacungkan telunjuk ke arah
Haykal.
“Wanna scream? Okay,
just do it. Asal kamu tau, Ayah sama Ibu udah berangkat ke rumah sakit pas kamu
lagi mandi. Jadi sampe pita suara kamu putus sekalipun, gak ada yang bakal
nolong kamu, sayang.” Cakka mempersempit jarak dengan langkahnya yang besar.
Tubuh Shilla menegang
di hadapannya.
“Kenapa? Takut?
Bukannya kamu sendiri yang ngatain aku pemerkosa?” Jarak mereka sudah kurang
dari satu meter sekarang. “Kalo kamu berani nyebut aku kayak gitu, aku lebih
berani lagi ngebuktiinnya. Are you ready, darling?”
Baru saja Shilla
hendak mencari alat yang bisa menghalangi langkah lelaki mesum ini, dua tangan
kokoh sudah mengurung dirinya yang bersandar di tembok samping pintu kamar
mandi.
Cakka tersenyum penuh
kemenangan ketika mendapati wajah tunangannya langsung memucat. Ia malah
mendekatkan wajahnya, menutup mata, dan menghirup aroma di depannya. Wangi
shampoo, sabun mandi, juga pasta gigi khas wanita berbaur menjadi satu. “Oh,
damn! I miss this smell,” bisiknya tepat di telinga kiri Shilla. Sengaja
menciptakan sensasi geli di sana.
“kka, kamu jangan
macem-macem, ya! Aku... mau nikah dalam keadaan suci,” balas Shilla. Suaranya
terputus-putus karena ngeri.
Lelaki itu tertawa
pelan. “Shilla sayang, kamu pikir aku bisa janji gak macem-macem kalo ngeliat
kamu kayak gini?” Ia menelusuri tiap lekuk tubuh di hadapannya dengan pandangan
penuh nafsu. “Aku bahkan yakin kamu gak pake underwear apapun di sini,”
lanjutnya sambil merapatkan tubuh mereka.
“Cakka, ka-kamu ma-mau
apa, sih? Ja-jangan bikin a-aku ta-takut...” Shilla sudah memejamkan kedua matanya
rapat-rapat. Tidak berani melihat ekspresi keji tunangannya. Ia bahkan
bersumpah akan benar-benar memutuskan hubungan mereka kalau sampai terjadi hal
yang tidak diinginkan. Dalam hati, tentunya.
Hening sesaat.
Hingga...
“Hahahahaha...” Tawa
Cakka pecah ke udara. Ia sampai harus memegangi perut dengan tangan kanan dan
menepuk-nepuk pahanya sendiri menggunakan tangan kiri saking geli.
“CAKKA KAWEKAS NURAGA!
MAKSUD KAMU APA, HAH?” teriak Shilla saat menyadari lelaki berkaos biru langit
tersebut menertawainya sampai hampir menangis.
“Kamu... Hahaha...
Kamu lucu banget, sayang. Hahaha... kamu harus liat gimana ekspresi kamu tadi.
Udah kayak ayam mau dipotong, tau gak! Hahaha...” Lelaki itu masih tergelak
bahagia. Tanpa sadar perubahan raut perempuan di depannya.
***
“Mana mungkin aku mau nyium kamu di depan banyak orang? Kamu pikir aku
bakalan biarin orang-orang liat gimana asiknya ngenikmatin bibir kamu yang
seksi ini?”
“Kamu
gila! Pokoknya aku benci sama kamu! Sebel! Huh!”
“Hahaha...
Kamu harus liat gimana ekspesi kamu tadi. Udah kayak ayam mau diipotong, tau
gak! Hahaha...”
***
“Auw!” Tiba-tiba, Shilla memegangi kepalanya dengan erat. Setelah sebuah
peristiwa tiba-tiba memaksa masuk ke dalam ingatannya.
Cakka sontak
menghentikan tawa. “Sayang, kamu kenapa? Kepalanya sakit lagi?” paniknya seraya
membantu memijat kepala perempuan tersebut.
Shilla menggeleng
pelan. “Udah mendingan, kok.” Ia menjauhkan jemari Cakka dari tubuhnya. Masih
trauma dengan sikap tunangannya barusan.
“Ya udah. Kamu buruan
pake baju. Perlengkapan buat seminggu udah aku siapin. Soalnya tadi Ibu udah
mau berangkat dan katanya kamu belum packing. Jadi aku bantu.”
Perempuan yang masih
mengenakan handuk itu bergeming. Membuat lelaki di hadapannya mengerutkan
kening.
“Trus ngapain bengong
gitu? Ini udah siang. Kamu mau ditinggalin sama rombongan?” Akhirnya Cakka yang
buka suara pertama kali.
“HEH! HARUSNYA AKU
YANG NANYA! BUKANNYA TADI KAMU NYURUH AKU GANTI BAJU? TRUS NGAPAIN KAMUNYA
MASIH DI SINI? KELUAR!!!”
Cakka cengengesan
mendengar teriakan tunangannya. Lalu berbalik, hendak melangkah ke arah pintu.
Namun dalam hitungan detik, ia membuat gerakan tidak terbaca.
CUP!
Shilla mematung.
Shock.
Lelaki tersebut
buru-buru berlari ke luar kamar dengan tawa mengambang di udara.
Saat kesadaran
perempuan itu kembali, ia meraba bibirnya. Tidak percaya telah kecolongan.
“CAKKAAA! DASAR TUKANG NGAMBIL KESEMPATAAAN!!!” soraknya sembari menutup pintu
kamar dengan keras. Tak lupa menguncinya.
“Itu morning kiss,
sayang...” Cakka balas berteriak dari dalam kamarnya yang terletak tepat di
seberang kamar Shilla.
Shilla mencibir
sejenak. Kemudian membuka lemari pakaian dengan segenap emosi yang tersisa.
Saat menemukan kemeja
dan rok panjang yang akan dikenakannya, ia melirik tas besar berisi pakaian
yang tergeletak di tepi tempat tidur.
Haykal
yang nyiapin semua ini, ya? batinnya seraya
membuka tas biru toska tersebut dan melihat isinya. Seketika, matanya membulat.
Di tumpukan pakaian yang paling atas, ada sebuah tas kecil bermotif tribal yang
memang selalu ia gunakan saat bepergian untuk menyimpan... pakaian dalam. Dan
kini, tas tersebut sudah terisi beberapa pasang pakaian dalam miliknya.
Kata-kata Cakka tadi
kembali terngiang. “Perlengkapan buat seminggu udah aku siapin. Soalnya tadi
Ibu udah mau berangkat dan katanya kamu belum packing. Jadi aku bantu.”
Membayangkan pakaian
dalamnya dijamah oleh tangan laki-laki membuatnya bergidik ngeri. Lalu
menggeleng sekuat tenaga. Mengenyahkan senyum mesum Cakka yang mengejek di
dalam kepala.
***
“Angel!” seru Shilla sambil berlari
menghampiri sahabatnya yang terlihat manis dengan mini dress bermotif mawar
kuning dan rambut yang dikuncir rapi sedang berdiri di samping bus Fakultas
Kedokteran.
Angel spontan menoleh.
Kemudian menatap perempuan berkemeja putih dan rok panjang merah muda tersebut
sudah berada di sampingnya. “Lo darimana aja, sih? Lama banget.”
“Sorry. Gue telat
bangun soalnya.” Shilla cengengesan.
“Adik-adik, silakan
masuk ke dalam bus masing-masing. Kita berangkat sekarang,” suara Dokter Tio
–dokter muda yang menjadi koordinator acara ini– melalui TOA di genggamannya.
“Lo satu bus sama gue,
kan? Rio juga di sana, loh...” tanya Angel. Entah bermaksud apa.
Baru saja perempuan
itu hendak menjawab, sebuah suara langsung menyela. “Ashilla, kamu ngapain
masih di sini? Kita kan udah mau berangkat.”
Shilla berbalik dan
menemukan sang tunangan sudah berdiri di belakang tubuh mungilnya.
“Dokter Cakka...”
Sontak, Shilla
mengalihkan perhatiannya lagi saat menyadari pemilik suara lembut tersebut.
Dokter Ify.
Cakka ikut menoleh.
“Ada apa, Dokter?”
“Dokter bawa mobil
sendiri, kan?”
Lelaki itu mengangguk
pelan dengan raut heran.
“Saya bisa ikut di
mobil Dokter? Saya gak bawa mobil soalnya,” ujar Dokter Ify.
Lengkap dengan senyum
manisnya.
Cakka memandang
Shilla, seakan meminta persetujuan. Yang dipandang hanya mengendikkan bahu acuh
tak acuh.
“Hmm boleh sih, Dok.
Tapi kita bertiga sama Shilla. Gak pa-pa, kan?”
“Shilla?” Perempuan
dengan long dress hijau dibalut jas dokter tersebut terdengar shock. “Bukannya
mahasiswi sudah disediakan bus dari fakultas, ya?”
“Iya, tapi dia kan...
tunangan saya, Dok. Lagipula, alasan saya bawa mobil pribadi karna ada dia
juga. Dia gak terbiasa disupirin sama orang lain sejak kecelakaan dulu.”
“Dokter Cakka, biar
bagaimanapun Shilla itu kan masih berstatus mahasiswi di sini. Dokter mau kalo
dosen-dosen atau mahasiswa yang lain heran? Atau ngerasa ada nepotisme di
kampus kita?”
Kedua alis Shilla
kontan menyatu. Apa-apaan, nih? Kenapa pake acara bawa-bawa nepotisme
segala? batinnya. Ia lalu mendapati beberapa pasang mata mulai tertarik
pada pembicaraan dua dokter di hadapannya.
“Dokter Cakka,
sebenarnya Dokter Ify bener juga. Aku kan udah bilang daritadi, aku mau naik
bus aja bareng Angel.” Shilla buka suara. Mengingat perdebatannya dengan Cakka
sebelum berangkat. Dan ia harus mengalah setelah mengajukan syarat agar lelaki
itu tidak menggodanya sepanjang penyuluhan nanti.
“Enggak boleh. Aku gak
mau kamu naik kendaraan umum. Orangtua kamu kan pesen biar aku jagain kamu.
Tadi kamu juga udah setuju pergi bareng aku,” tolak Cakka. Rahangnya mengeras.
“Itu kan tadi.
Sekarang aku udah berubah pikiran. Dokter Cakka naik mobil aja, kan ada Dokter
Ify yang nemenin. Aku mau naik bus. Yuk!” Shilla langsung menarik pergelangan
tangan Angl tanpa menunggu balasan Cakka.
“Shill! Ashilla!”
teriak lelaki berkaos biru langit dan celana jeans biru dongker itu. Namun baru
saja berniat menyusul dan menggiring tunangannya untuk turun dari bus, sebuah
sentuhan lembut menahannya.
“Dokter, ini kan udah
siang. Gimana kalo kita berangkat sekarang?” ucap Dokter Ify, tanpa rasa
bersalah sedikitpun.
Cakka berdecak kesal
ketika menyadari bus yang ditempati Shilla sudah mulai melaju. Mau tak mau, ia
pun melangkah menuju mobilnya. Mendahului Dokter Ify.
Perempuan berambut
lurus kecoklatan tersebut mengikuti Cakka dengan wajah puas. Setelah sebelumnya
menyempatkan diri menoleh ke dalam bus tempat Shilla dan Angel masuk tadi. Lalu
bertukar senyum dengan Rio yang duduk di dekat jendela, tepat di belakang
Shilla. Senyum penuh arti. Senyum yang menjadi awal dari ‘kebahagiaan’ mereka.
***
Shilla langsung buang muka saat mendapati mobil range rover sport milik Cakka
berada tepat di sebelah bus yang ia tempati. Membayangkan wajah Dokter Ify yang
tersenyum manis ke arah tunangannya, bermanja-manja, duduk bersebelahan,
membuatnya ingin mematahkan sesuatu sekarang juga.
Tiba-tiba, sebuah jemari
terulur dari belakang. Menyodorkan coklat almond kesukaannya. Ia pun kontan
menoleh. Lalu bertemu pandang dengan... “Rio?”
Lelaki yang terlihat
santai dengan sweater abu-abu dan jeans hitam itu tersenyum membalasnya. “Ini
buat kamu.” Ia menggoyangkan tangan kanannya, memberi isyarat agar Shilla
segera meraihnya.
Tanpa pikir panjang,
perempuan berambut ikal tersebut pun langsung mengambilnya. “Thankyou, ya! Tau
aja kalo aku lagi butuh mood booster,” ujarnya seraya membuka bungkus coklat
yang sudah berpindah ke genggamannya.
Rio semakin
menyunggingkan kedua sudut bibirnya. “Aku kan masih inget semua tentang kamu
dari jaman smp dulu.”
“Loh, buat gue mana?”
celetuk Angel seraya menoleh ke belakang kursinya, tempat Rio berada.
“Yah, gue cuma bawa
satu, Ngel. Rejeki lo gak ada, sih.”
Angel spontan manyun.
Kemudian mengembalikan posisi duduknya ke depan tanpa mempedulikan lelaki itu
lagi.
Shilla dan Rio tertawa
bersamaan melihat aksi perempuan tersebut.
“Nih, buka mulutnya.
Aaa...” Shilla mengacungkan sepotong coklat di antara telunjuk dan ibu jarinya
ke bibir Angel. Yang langsung disambut dengan senang hati olehnya.
“Eh, aku juga dong!
Masa aku yang ngasih tapi Angel doang yang disuapin?” Rio mencondongkan
tubuhnya ke depan. Lengkap dengan mulut terbuka lebar.
Angel kontan mencibir.
Shilla tertawa pelan.
“Iya, deh. Nih...” Ia pun menyuapi lelaki di belakangnya. Masih dengan tawa
geli. Berusaha melupakan kejadian sebelum berangkat tadi.
***
“Oh, shit!” umpat Cakka pelan, sambil memukul stir di depannya.
“Dokter kenapa?” tanya
Dokter Ify, kedengaran kaget. Padahal ia sendiri ikut menyaksikan tingkah
Shilla dan Rio melalui kaca bus yang transparan di sebelah mereka.
“Gak pa-pa, Dok. Maaf,
saya kelepasan.” Lelaki itu kembali memusatkan pandangannya ke depan. Ia bahkan
menyalip bus yang dikendarai Shilla. Tak mau berlama-lama melihat tunangannya
dekat dengan laki-laki lain.
“Di daerah penyuluhan
nanti, saya dengar Dokter dan Shilla akan menginap di rumah mamanya Dokter Cakka,
ya?” tanya Dokter Ify, mengalihkan pembicaraan.
“Iya, Dok.”
“Kira-kira saya nginap
dimana, ya?” Perempuan itu terlihat menerawang. “Semoga yang punya rumah
friendly, deh. Saya agak kikuk kalo sama orang baru soalnya.”
“Loh, bukannya Dokter
Tio udah ngasih tau nama-nama warga yang rumahnya akan kita tempati nanti?”
Cakka melirik perempuan itu sekilas.
“Iya, sih. Tadi Dokter
Tio ngasih tau nama warga yang rumahnya bakal saya tinggali.”
“Trus, namanya siapa,
Dok? Kebetulan saya kenal hampir semua tetangga mama saya di sana. Siapa tau
sebentar saya bisa bantu ngenalin Dokter sama beliau.”
Dokter Ify langsung
merogoh isi tas tangan yang berada di pangkuannya. Kemudian mengeluarkan
handphone dan menekan beberapa tombol. “Nah, ini dia,” ucapnya saat menemukan
pesan singkat Dokter Tio semalam. “Namanya... Ibu Idha.”
Kali ini, Cakka sontak
menoleh dengan ekspresi terkejut. “Ibu Idha? Itu kan... mama saya!”
*TBC*
Komentar
Posting Komentar