Langsung ke konten utama

Remember Me #9 Versi CakShill



Oleh


“Kamu ngomong apa, sih?” sorak Cakka, meluapkan emosinya. Seharian ini ia sudah dibuat stress gara-gara masalah rumah sakit, kampus, mobil mogok, Shilla tiba-tiba menghilang dan pulang bersama Rio, sekarang apa lagi? Perempuan itu membatalkan pertunangan? Apa tidak cukup masalahnya seharian ini?

“Pertunangan ini gak bisa aku lanjutin lagi,” balas Shilla. “Maafin aku selama ini.”

“Shilla, please... Kamu kenapa? Oke, aku minta maaf. Kamu boleh nyuruh aku apa aja. Kamu boleh mukul aku sampe babak belur sekalipun, tapi kamu jangan mutusin sesuatu dengan gampang!” Cakka membekap kepalanya sendiri. Membuat rambutnya yang sudah menutupi telinga jadi berantakan.

Perempuan itu terdiam.

“Asal kamu tau, kita udah tunangan enam tahun ini. Kamu pikir gampang memutuskan semuanya dalam waktu beberapa menit aja? Hah?” seru Cakka, frustasi.

“Aku gak inget apapun tentang kamu.”

“Iya, aku tau! Trus kamu pikir aku bakal nerima keputusan kamu ini? Gitu? Haha...” Lelaki itu tertawa hambar. “Kamu sih enak. Kamu gak inget semua tentang aku. Lah, aku? Kamu pikir aku bisa lupa semuanya secepat ini?”

Air mata Shilla mengalir lebih deras. Sesenggukan dari bibir mungilnya pun terdengar semakin keras.

“Loh, kamu kenapa lagi? Harusnya aku yang sedih. Kamu jangan nangis gitu, dong! Kamu makin nyiksa aku, tau gak!” Cakka langsung menarik tubuh tunangannya ke dalam pelukan.

Shilla tidak mengelak. Tubuh dan mentalnya terlalu lemah saat ini.

Lelaki dengan dada bidang dan pelukan hangat itu mengusap bahu Shilla pelan. “Cup, cup, cup... Jangan nangis terus, dong. Aku kan udah minta maaf. Kalo ada masalah lagi, kamu ngomong aja. Pukul aku sekalian. Asal kamu gak sedih lagi,” ujarnya, mencoba menenangkan.

Shilla langsung menghela nafas panjang. Entah mengapa, pelukan, usapan, dan setiap kata-kata yang mengalir dari bibir tunangannya tersebut terasa sangat menentramkan. Ia lalu menarik dirinya dari rengkuhan Cakka. Kemudian menatap wajahnya dengan mata memerah dan sesenggukan kecil.

Dahi lelaki itu kontan berkerut.

“Aku...” ucap Shilla. Namun langsung berhenti saat ia belum bisa mengontrol sesenggukannya. Setelah menghela nafas panjang beberapa kali, barulah dadanya lebih ringan. “Sampe sekarang, aku belum bisa inget apapun tentang kamu. Aku ngerasa sebagai tunangan yang gagal. Aku takut gak bisa bikin kamu bahagia, sedangkan kamu selalu ngasih aku semuanya. Kamu rela berkorban apapun demi aku, tapi aku? Aku gak bisa, kka. Aku–”

Cakka langsung membekap mulut Shilla dengan bibirnya. Mencegah rentetan kalimat meluncur lagi dari sana. Membiarkan perempuan itu hanyut dalam ciumannya dan melupakan ketakutan-ketakutan yang  ia alami selama ini.

Tanpa disangka, Shilla menyambutnya. Membalas ciuman itu dengan membuka bibir. Membiarkan lidah Cakka mendesak masuk ke dalam sana dan menjelajahi isinya. Bukan hanya itu. Ia pun menggerakkan lidahnya di dalam mulut lelaki tersebut. Tidak lupa mengulum bibir atas dan bawah tunangannya.

Cakka sontak mendorong tubuh Shilla memasuki kamar. Menggenggam belakang kepala perempuan tersebut sambil terus ‘bermain’ dengan bibirnya.

Shilla ikut memundurkan langkah. Dengan kedua tangan melingkari leher Cakka dan bibir yang mengikuti permainan tunangannya itu. Sampai ia terantuk oleh tempat tidurnya sendiri, dan terduduk di atasnya. Membuat Cakka ikut duduk tanpa sedikitpun melepaskan bibir mereka masing-masing.

“kka...” ujar Shilla –lebih berupa desahan– saat ia berhasil mengambil jeda di antara nafasnya yang memburu.

Cakka ikut menarik wajahnya. Kedua alisnya menyatu, namun bahunya juga naik-turun. Pertanda hampir kehabisan nafas.

“Aku...” Shilla menggantung kalimatnya. Ia menggigit bibir bawahnya sendiri, seakan kehilangan kata-kata.

“Shilla sayang,” ujar Cakka. Ia mengelus pipi mulus milik tunangannya sambil tersenyum lebar. “Kamu gak bisa bayangin gimana rindunya aku sama bibir kamu.”

Kedua alis Shilla menyatu.

Lelaki di depannya ganti mengelus bibir mungilnya dengan ibu jari. “Bibir kamu tetap manis. Masih jadi candu buat aku. Dari dulu, sekarang, dan buat selamanya.”
Wajah perempuan itu sontak bersemu. Sedetik kemudian, Cakka kembali mendekatinya. Dan semuanya berubah menjadi perasaan bahagia.

***

            Shilla yang pagi itu terlihat cantik –dengan rambut dikuncir kuda dan setelan long dress berwarna biru toska, serta make-up tipis– sedang mengolesi roti gandum di genggamannya dengan selai coklat.

“Pagi, sayang...” sapa Cakka sembari menaruh tas laptopnya di kursi sebelah kanan dan mengecup puncak kepala tunangannya yang sedang duduk di kursi sebelah kirinya.

“Iya, pagi...” balas Shilla ogah-ogahan. Ia belum terbiasa dengan sikap Cakka yang seperti itu. Membuatnya kikuk dengan aksi bak pasangan suami-istri. “Kamu mau pakai selai apa?” tanya perempuan tersebut seraya meraih setangkup roti di depannya.

“Selainya apa aja, asal aku bisa makan kamu,” jawab Cakka sambil tersenyum manis. Lalu meletakkan kedua siku miliknya di atas meja, sebagai pilar telapak tangan yang menangkup wajahnya sendiri.

“Kata-kata kamu itu, lebih berasa kayak kanibal daripada ngegombal,” sungut Shilla sambil mengolesi roti tersebut dengan selai kacang.

Cakka tertawa pelan. Kemudian mencomot roti yang baru saja diletakkan tunangannya ke atas piring. “Hari ini kamu ke rumah sakit Bunda lagi?” tanyanya, dengan mulut yang asik mengunyah.

“Enggak. Aku mau ngurus nilai di kampus. Katanya Dokter Sheila juga mau ketemu sama aku,” jawab Shilla. Ia ikut mengunyah roti selai coklat, sambil sesekali meneguk susu coklatnya.

“Baguslah.” Cakka menyesap cappucino panas buatan tunangannya.

Dahi Shilla berkerut. “Maksudnya?”

“Ya, bagus. Artinya kita bisa lebih sering ketemu. Kalo kamu di rumah sakit Bunda, aku jadi susah ngedeketin kamu. Banyak dokter kepo. Malesin.”

***

           Shilla membuka diktat tebal di tangannya sembari melangkah menyusuri koridor utama lantai dasar Fakultas Kedokteran.

“Hai, Shilla.” Tiba-tiba sebuah suara muncul di sebelahnya.

Perempuan itu langsung mengangkat wajah. Lalu menemukan senyum lebar milik Rio di sana. “Hai...”

“Kamu lagi ngapain? Sibuk banget keliatannya.”

Shilla mengacungkan diktat di genggamannya dengan wajah manyun. “Iya, nih. aku abis konsultasi masalah akademik sama Dokter Sheila. Trus malah dikasih tugas.” Ia mendesah keras di ujung kalimatnya.

“Beruntung banget dong kamu,” balas Rio, berniat mengejek.

“Huh, sialan!” Shilla mengerucutkan bibir mungilnya.

“Ehem.”

Perempuan dan lelaki berjas dokter yang tadinya saling tukar tawa tersebut seketika menoleh. Kemudian mendapati Cakka sedang berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada tepat di belakang Shilla.

“Selamat pagi, Dok...” sapa Rio. Lengkap dengan senyum manis seraya membungkukkan sedikit tubuhnya.

“Pagi,” balas Cakka. Terdengar ketus dengan raut wajah yang kaku. Pandangannya beralih ke arah tunangannya. “Kamu ngapain di sini? Bukannya mau ketemu Dokter Sheila?”

“Ini, abis ketemu. Tapi aku dikasih tugas, jadi mau balik ke kelas lagi,” jawab Shilla sembari mengacungkan diktat di tangan kanannya.

“Ya udah. Kamu balik ke kelas aja. Ntar siang kita lunch bareng, ya!” Cakka mengelus poni tunangannya yang agak berantakan, sebelum perempuan itu buru-buru beranjak karena takut memancing perhatian orang-orang gara-gara tingkah calon suaminya tersebut.

Setelah Shilla menghilang di tikungan koridor, Cakka ganti menatap Rio, asistennya sebulan terakhir ini. Memandanginya dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan pandangan tajam, lalu berkata, “Kamu itu sebaiknya ngurusin mahasiswa-mahasiswi saya, bukannya malah tunangan saya. Ngerti?”

***

            “Ck! Sial!” Rio menendang kerikil di dekat mobilnya dengan segenap emosi yang sedari tadi minta diluapkan.

“Kamu kenapa, sih? Ngumpat-ngumpat gak jelas gitu.”

Lelaki itu langsung menoleh. “Maaf, Dok. Saya lagi badmood,” balasnya ke arah seorang wanita cantik yang berdiri di sampingnya saat ini. Wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah Dokter Ify.

“Saya liat kok waktu Dokter Cakka negur kamu tadi,” ujarnya. “Kamu sabar aja. Bukannya waktu kamu untuk jadi asisten Dokter Cakka tinggal sebulan lagi? Abis itu, kamu bisa bebas ngedeketin Shilla secara frontal.”

“Dokter Ify sendiri, gimana?”

Wanita dengan kemeja jingga dan rok panjang motif pelangi tersebut hanya tersenyum. “Kita mainnya pakai cara yang halus aja, Rio. Biarin mereka bahagia dulu, baru kita yang ngerasain kebahagiaan itu.”

Rio bersandar ke body mobil mini miliknya tanpa suara.

“Lagian, saya heran. Bukannya kita abis jalan bareng sama mereka? Kenapa mereka malah gak berantem? Mereka kan sama-sama cemburuan. Apalagi malem itu kamu nganterin Shilla pulang, sementara Dokter Cakka kelimpungan nyari dia di rumah sakit. Saya bahkan yakin sekali kalo mereka pasti bertengkar hebat. Tapi kenapa... jadi begini?”

“Saya juga gak ngerti, Dok. Kayaknya kita harus berusaha maksimal kalo mau misahin Dokter Cakka sama Shilla.”

“Saya setuju. Kita lanjutkan rencana selanjutnya saja.”

***

            Shilla membalas senyum pelayan yang baru saja membawakan pesanan. Lalu mulai meracik bumbu ke dalam kuah baksonya. Gara-gara Cakka harus menemui dekan, jadilah mereka makan siang sesore ini.

“Jadi Dokter Sheila minta kamu ngegantiin dia di acara penyuluhan nanti?” tanya lelaki yang sedang mengaduk mie kering itu.

Siang tadi, Dokter Sheila menemui dokter ganteng tersebut untuk mengurus jadwal KKN Fanya agar dipindahkan ke hari lain karena ia meminta gadis itu mengikuti penyuluhan kesehatan di salah satu daerah. Tanpa pikir panjang, Cakka langsung mengiyakannya mengingat ia pun akan pergi ke daerah penyuluhan yang tidak lain dan tidak bukan adalah tempat tinggal mamanya.

Yang ditanya hanya mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan dari mangkuk di depannya.

“Aku seneng banget, deh. Berarti kita bisa sekalian ketemu Mama. Dia pasti kangen banget sama kamu.”

Shilla mengangguk kuat-kuat. “Aku juga udah kangen banget sama Mama. Sekalian mau belajar masak. Kata Mama, aku mau diajarin masak makanan kesukaan kamu,” jelasnya berapi-api. “Emang kamu suka makan apa, sih?” Kedua mata perempuan itu membesar. Penuh tanya, dan rasa penasaran.

Cakka tersenyum getir. Menyadari tunangan yang sangat dicintainya sudah melupakan segala hal tentangnya malah membuatnya semakin sakit. Walaupun ia harus cepat-cepat menerima kenyataan, bahwa semua ini bukan kemauan Shilla.

Tiba-tiba di tengah keheningan yang tercipta, Shilla meringis sambil meremas rambut panjangnya.

Lelaki di hadapannya buru-buru meraih jemari Shilla dengan panik. “Kamu kenapa, sayang? Apanya yang sakit? Kamu lupa minum obat lagi?”

Perempuan itu tidak menjawab. Di kepalanya terputar beberapa potong peristiwa yang tiba-tiba hadir dan silih berganti. Seakan berebutan masuk ke dalam memorinya.

***

            “Kamu kayaknya serius banget,” suara Cakka. Ia terlihat sedang memeluk pinggang Shilla dari belakang. Tepat di depan kompor berisi panci dan wajan yang sedang ditekuni tunangannya.

“Aku kan mau jadi istri yang baik. Jadi aku bakal bikin ayam rica-rica sama sayur sup paling enak sedunia.”

“Emang makanan buatan kamu bakal lebih enak dari masakan Mama? Yakin?” Lelaki itu sedang membenamkan wajahnya di leher Shilla, di antara helaian rambutnya yang dibiarkan tergerai.

“We’ll see.”

Kemudian, mereka tertawa bersama.

.....

“Gimana? Enak?” Perempuan dengan mini dress bermotif anggrek putih tersebut duduk di depan Cakka sambil menautkan kesepuluh jarinya di atas meja. Wajahnya terlihat cemas.

Cakka memasukkan sesendok nasi lengkap dengan potongan ayam rica-rica dan potongan kentang serta wortel ke dalam mulutnya. Mengunyah sebentar, menerawang, mengerutkan dahi sejenak, lalu mengalihkan tatapannya ke arah Shilla.

Shilla langsung berubah tegang. Mulai dari raut wajah, hingga ke cara duduknya. “Kenapa? Rasanya... aneh?”

Tatapan Cakka masih setia melekat pada titik di depannya. Tanpa ekspresi. Sampai... “Kayaknya sekarang aku bisa selingkuh dari masakan Mama yang udah setia nemenin aku 20 tahun ini.”

***

            “Ayam rica-rica sama sayur sup,” lirih Shilla di tengah ringisannya.

“Apa? Kamu kenapa, sayang?” Lelaki itu masih panik. Beberapa menit yang lalu, ia mendapati tunangannya terdiam dengan raut yang menahan rasa sakit sambil memejamkan kedua mata dengan erat dan meremas rambutnya. Kemudian sekarang, perempuan yang dicintainya itu sedang meracau.

“Kamu... Suka... Ayam rica-rica... Sama sayur sup?” bisik FanyaShilla lagi. Kali ini, ia memandang Cakka dengan dahi berkerut.

Cakka mengangguk pelan. “Kamu tau darimana?” tanyanya heran. “Kamu inget sesuatu?”

Giliran perempuan itu yang mengangguk.

Tapi baru saja hendak bertanya lebih banyak, Shilla sudah ambruk ke pelukannya.

***

            Shilla bangun keesokan harinya. Sejak pingsan kemarin sore, tidurnya diramaikan oleh kepingan-kepingan masa lalu. Semuanya berisi wajah Cakka. namun saking banyaknya, ia sampai lupa apa saja isi mimpinya saat sudah terjaga.

“Kamu udah bangun, sayang?”

Perempuan itu kontan menoleh ke sumber suara. Tempat sang ibu berada.

“Alhamdulillah kalo kamu udah sadar. Sekarang gimana? Kepala kamu masih sakit? Apa Ibu perlu panggilin Ayah sama Cakka?” lanjut wanita setengah baya tersebut.

Shilla berusaha bangkit dan duduk sambil bersandar ke sisi tempat tidurnya. “Gak usah, Bu. Aku malah ngerasa seger banget sekarang. Udah lama aku gak tidur senyenyak dan selama ini.”

Ibu mengusap kepala putri semata wayangnya penuh rasa sayang. Lalu, beliau tiba-tiba teringat sesuatu. “Oh, iya. Kamu berangkat jam berapa, sayang?”

Alis Shilla kontan menyatu. “Berangkat? Emangnya aku mau kemana, Bu?”

“Loh, bukannya Cakka bilang kalian mau ke rumah Mama buat penyuluhan di puskesmas sana?”

Mendengar kata penyuluhan dan Mama, kerutan di dahi Shilla sontak lenyap. “Ya ampun! Ini udah jam berapa, Bu? Aku belum siap-siap. Perlengkapan buat seminggu belum di-pack. Aduh, Bu...” Ia langsung melompat dari tempat tidur. Kemudian berlari pontang-panting memasuki kamar mandi di sudut kamar, setelah sempat menendang kursi dan menyumpah tanpa sadar.

***

            “Ada apa, Bu?” Cakka muncul di depan pintu tepat saat Shilla menutup pintu kamar mandi dengan keras.

“Itu, tadi si Shilla heboh banget pas inget mau penyuluhan ke tempat tinggal mama kamu. Sampe nendang kursi segala.” Ibu geleng-geleng kepala. “Katanya dia belum packing, lagi. Ibu mau bantu sih, tapi Ibu sama Ayah kan harus ke rumah sakit sekarang.”

“Ya udah, Bu. Biar aku aja yang nyiapin semuanya. Kebetulan aku juga udah selesai packing.”

***

            Hal pertama yang dilakukan Shilla saat mendapati sesosok tubuh tinggi menjulang di tepi tempat tidurnya adalah... “Aaaaarrrrrrrgggghhhhh!!!”

Sosok yang tidak lain dan tidak bukan merupakan tunangannya tersebut kontan menoleh seraya menutupi telinganya dengan kedua tangan.

“Ngapain kamu di sini? Aku lagi mandi, tau!” serunya lagi. Berbeda dengan Cakka, ia malah menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Menutupi bagian tubuh yang menonjol di balik balutan sehelai handuk.

Lelaki itu menurunkan tangannya perlahan. “Udah selesai teriaknya? Kamu ini udah kayak tarzan, deh.” Ia kembali sibuk dengan tas besar di tepi tempat tidur milik tunangannya.

“Kamu bilang apa? Aku kayak tarzan?” Mata Shilla kontan membesar. Tidak terima.

“Kalo aku tarzan, kamu apa? Pemerkosa yang masuk kamar orang tanpa izin? Pas calon korbannya lagi mandi, iya?”

Cakka sontak berbalik dan menatap perempuan di depannya. “Pemerkosa, hah?” tanyanya datar. Lalu melangkah pelan mendekati perempuan dengan rambut basah dan tubuh seksi berhanduk putih itu.

Radar Shilla spontan menangkap sinyal mesum pada aksi lelaki tersebut. “Jangan deket-deket! Aku bakal teriak, nih! Stop there!” soraknya sambil mengacungkan telunjuk ke arah Haykal.

“Wanna scream? Okay, just do it. Asal kamu tau, Ayah sama Ibu udah berangkat ke rumah sakit pas kamu lagi mandi. Jadi sampe pita suara kamu putus sekalipun, gak ada yang bakal nolong kamu, sayang.” Cakka mempersempit jarak dengan langkahnya yang besar.

Tubuh Shilla menegang di hadapannya.

“Kenapa? Takut? Bukannya kamu sendiri yang ngatain aku pemerkosa?” Jarak mereka sudah kurang dari satu meter sekarang. “Kalo kamu berani nyebut aku kayak gitu, aku lebih berani lagi ngebuktiinnya. Are you ready, darling?”

Baru saja Shilla hendak mencari alat yang bisa menghalangi langkah lelaki mesum ini, dua tangan kokoh sudah mengurung dirinya yang bersandar di tembok samping pintu kamar mandi.

Cakka tersenyum penuh kemenangan ketika mendapati wajah tunangannya langsung memucat. Ia malah mendekatkan wajahnya, menutup mata, dan menghirup aroma di depannya. Wangi shampoo, sabun mandi, juga pasta gigi khas wanita berbaur menjadi satu. “Oh, damn! I miss this smell,” bisiknya tepat di telinga kiri Shilla. Sengaja menciptakan sensasi geli di sana.

“kka, kamu jangan macem-macem, ya! Aku... mau nikah dalam keadaan suci,” balas Shilla. Suaranya terputus-putus karena ngeri.

Lelaki itu tertawa pelan. “Shilla sayang, kamu pikir aku bisa janji gak macem-macem kalo ngeliat kamu kayak gini?” Ia menelusuri tiap lekuk tubuh di hadapannya dengan pandangan penuh nafsu. “Aku bahkan yakin kamu gak pake underwear apapun di sini,” lanjutnya sambil merapatkan tubuh mereka.

“Cakka, ka-kamu ma-mau apa, sih? Ja-jangan bikin a-aku ta-takut...” Shilla sudah memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Tidak berani melihat ekspresi keji tunangannya. Ia bahkan bersumpah akan benar-benar memutuskan hubungan mereka kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan. Dalam hati, tentunya.

Hening sesaat.

Hingga...

“Hahahahaha...” Tawa Cakka pecah ke udara. Ia sampai harus memegangi perut dengan tangan kanan dan menepuk-nepuk pahanya sendiri menggunakan tangan kiri saking geli.

“CAKKA KAWEKAS NURAGA! MAKSUD KAMU APA, HAH?” teriak Shilla saat menyadari lelaki berkaos biru langit tersebut menertawainya sampai hampir menangis.

“Kamu... Hahaha... Kamu lucu banget, sayang. Hahaha... kamu harus liat gimana ekspresi kamu tadi. Udah kayak ayam mau dipotong, tau gak! Hahaha...” Lelaki itu masih tergelak bahagia. Tanpa sadar perubahan raut perempuan di depannya.

***

            “Mana mungkin aku mau nyium kamu di depan banyak orang? Kamu pikir aku bakalan biarin orang-orang liat gimana asiknya ngenikmatin bibir kamu yang seksi ini?”

“Kamu gila! Pokoknya aku benci sama kamu! Sebel! Huh!”

“Hahaha... Kamu harus liat gimana ekspesi kamu tadi. Udah kayak ayam mau diipotong, tau gak! Hahaha...”

***

            “Auw!” Tiba-tiba, Shilla memegangi kepalanya dengan erat. Setelah sebuah peristiw­a tiba-tiba memaksa masuk ke dalam ingatannya.

Cakka sontak menghentikan tawa. “Sayang, kamu kenapa? Kepalanya sakit lagi?” paniknya seraya membantu memijat kepala perempuan tersebut.

Shilla menggeleng pelan. “Udah mendingan, kok.” Ia menjauhkan jemari Cakka dari tubuhnya. Masih trauma dengan sikap tunangannya barusan.

“Ya udah. Kamu buruan pake baju. Perlengkapan buat seminggu udah aku siapin. Soalnya tadi Ibu udah mau berangkat dan katanya kamu belum packing. Jadi aku bantu.”

Perempuan yang masih mengenakan handuk itu bergeming. Membuat lelaki di hadapannya mengerutkan kening.

“Trus ngapain bengong gitu? Ini udah siang. Kamu mau ditinggalin sama rombongan?” Akhirnya Cakka yang buka suara pertama kali.

“HEH! HARUSNYA AKU YANG NANYA! BUKANNYA TADI KAMU NYURUH AKU GANTI BAJU? TRUS NGAPAIN KAMUNYA MASIH DI SINI? KELUAR!!!”

Cakka cengengesan mendengar teriakan tunangannya. Lalu berbalik, hendak melangkah ke arah pintu. Namun dalam hitungan detik, ia membuat gerakan tidak terbaca.

CUP!

Shilla mematung. Shock.

Lelaki tersebut buru-buru berlari ke luar kamar dengan tawa mengambang di udara.

Saat kesadaran perempuan itu kembali, ia meraba bibirnya. Tidak percaya telah kecolongan. “CAKKAAA! DASAR TUKANG NGAMBIL KESEMPATAAAN!!!” soraknya sembari menutup pintu kamar dengan keras. Tak lupa menguncinya.

“Itu morning kiss, sayang...” Cakka balas berteriak dari dalam kamarnya yang terletak tepat di seberang kamar Shilla.

Shilla mencibir sejenak. Kemudian membuka lemari pakaian dengan segenap emosi yang tersisa.

Saat menemukan kemeja dan rok panjang yang akan dikenakannya, ia melirik tas besar berisi pakaian yang tergeletak di tepi tempat tidur.

Haykal yang nyiapin semua ini, ya? batinnya seraya membuka tas biru toska tersebut dan melihat isinya. Seketika, matanya membulat. Di tumpukan pakaian yang paling atas, ada sebuah tas kecil bermotif tribal yang memang selalu ia gunakan saat bepergian untuk menyimpan... pakaian dalam. Dan kini, tas tersebut sudah terisi beberapa pasang pakaian dalam miliknya.

Kata-kata Cakka tadi kembali terngiang. “Perlengkapan buat seminggu udah aku siapin. Soalnya tadi Ibu udah mau berangkat dan katanya kamu belum packing. Jadi aku bantu.”

Membayangkan pakaian dalamnya dijamah oleh tangan laki-laki membuatnya bergidik ngeri. Lalu menggeleng sekuat tenaga. Mengenyahkan senyum mesum Cakka yang mengejek di dalam kepala.

***

            “Angel!” seru Shilla sambil berlari menghampiri sahabatnya yang terlihat manis dengan mini dress bermotif mawar kuning dan rambut yang dikuncir rapi sedang berdiri di samping bus Fakultas Kedokteran.

Angel spontan menoleh. Kemudian menatap perempuan berkemeja putih dan rok panjang merah muda tersebut sudah berada di sampingnya. “Lo darimana aja, sih? Lama banget.”

“Sorry. Gue telat bangun soalnya.” Shilla cengengesan.

“Adik-adik, silakan masuk ke dalam bus masing-masing. Kita berangkat sekarang,” suara Dokter Tio –dokter muda yang menjadi koordinator acara ini– melalui TOA di genggamannya.

“Lo satu bus sama gue, kan? Rio juga di sana, loh...” tanya Angel. Entah bermaksud apa.

Baru saja perempuan itu hendak menjawab, sebuah suara langsung menyela. “Ashilla, kamu ngapain masih di sini? Kita kan udah mau berangkat.”

Shilla berbalik dan menemukan sang tunangan sudah berdiri di belakang tubuh mungilnya.

“Dokter Cakka...”

Sontak, Shilla mengalihkan perhatiannya lagi saat menyadari pemilik suara lembut tersebut. Dokter Ify.

Cakka ikut menoleh. “Ada apa, Dokter?”

“Dokter bawa mobil sendiri, kan?”

Lelaki itu mengangguk pelan dengan raut heran.

“Saya bisa ikut di mobil Dokter? Saya gak bawa mobil soalnya,” ujar Dokter Ify.
Lengkap dengan senyum manisnya.

Cakka memandang Shilla, seakan meminta persetujuan. Yang dipandang hanya mengendikkan bahu acuh tak acuh.

“Hmm boleh sih, Dok. Tapi kita bertiga sama Shilla. Gak pa-pa, kan?”

“Shilla?” Perempuan dengan long dress hijau dibalut jas dokter tersebut terdengar shock. “Bukannya mahasiswi sudah disediakan bus dari fakultas, ya?”

“Iya, tapi dia kan... tunangan saya, Dok. Lagipula, alasan saya bawa mobil pribadi karna ada dia juga. Dia gak terbiasa disupirin sama orang lain sejak kecelakaan dulu.”

“Dokter Cakka, biar bagaimanapun Shilla itu kan masih berstatus mahasiswi di sini. Dokter mau kalo dosen-dosen atau mahasiswa yang lain heran? Atau ngerasa ada nepotisme di kampus kita?”

Kedua alis Shilla kontan menyatu. Apa-apaan, nih? Kenapa pake acara bawa-bawa nepotisme segala? batinnya. Ia lalu mendapati beberapa pasang mata mulai tertarik pada pembicaraan dua dokter di hadapannya.

“Dokter Cakka, sebenarnya Dokter Ify bener juga. Aku kan udah bilang daritadi, aku mau naik bus aja bareng Angel.” Shilla buka suara. Mengingat perdebatannya dengan Cakka sebelum berangkat. Dan ia harus mengalah setelah mengajukan syarat agar lelaki itu tidak menggodanya sepanjang penyuluhan nanti. 

“Enggak boleh. Aku gak mau kamu naik kendaraan umum. Orangtua kamu kan pesen biar aku jagain kamu. Tadi kamu juga udah setuju pergi bareng aku,” tolak Cakka. Rahangnya mengeras.

“Itu kan tadi. Sekarang aku udah berubah pikiran. Dokter Cakka naik mobil aja, kan ada Dokter Ify yang nemenin. Aku mau naik bus. Yuk!” Shilla langsung menarik pergelangan tangan Angl tanpa menunggu balasan Cakka.

“Shill! Ashilla!” teriak lelaki berkaos biru langit dan celana jeans biru dongker itu. Namun baru saja berniat menyusul dan menggiring tunangannya untuk turun dari bus, sebuah sentuhan lembut menahannya.

“Dokter, ini kan udah siang. Gimana kalo kita berangkat sekarang?” ucap Dokter Ify, tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Cakka berdecak kesal ketika menyadari bus yang ditempati Shilla sudah mulai melaju. Mau tak mau, ia pun melangkah menuju mobilnya. Mendahului Dokter Ify.

Perempuan berambut lurus kecoklatan tersebut mengikuti Cakka dengan wajah puas. Setelah sebelumnya menyempatkan diri menoleh ke dalam bus tempat Shilla dan Angel masuk tadi. Lalu bertukar senyum dengan Rio yang duduk di dekat jendela, tepat di belakang Shilla. Senyum penuh arti. Senyum yang menjadi awal dari ‘kebahagiaan’ mereka.

***

            Shilla langsung buang muka saat mendapati mobil range rover sport milik Cakka berada tepat di sebelah bus yang ia tempati. Membayangkan wajah Dokter Ify yang tersenyum manis ke arah tunangannya, bermanja-manja, duduk bersebelahan, membuatnya ingin mematahkan sesuatu sekarang juga.

Tiba-tiba, sebuah jemari terulur dari belakang. Menyodorkan coklat almond kesukaannya. Ia pun kontan menoleh. Lalu bertemu pandang dengan... “Rio?”

Lelaki yang terlihat santai dengan sweater abu-abu dan jeans hitam itu tersenyum membalasnya. “Ini buat kamu.” Ia menggoyangkan tangan kanannya, memberi isyarat agar Shilla segera meraihnya.

Tanpa pikir panjang, perempuan berambut ikal tersebut pun langsung mengambilnya. “Thankyou, ya! Tau aja kalo aku lagi butuh mood booster,” ujarnya seraya membuka bungkus coklat yang sudah berpindah ke genggamannya. 

Rio semakin menyunggingkan kedua sudut bibirnya. “Aku kan masih inget semua tentang kamu dari jaman smp dulu.”

“Loh, buat gue mana?” celetuk Angel seraya menoleh ke belakang kursinya, tempat Rio berada.

“Yah, gue cuma bawa satu, Ngel. Rejeki lo gak ada, sih.”

Angel spontan manyun. Kemudian mengembalikan posisi duduknya ke depan tanpa mempedulikan lelaki itu lagi.

Shilla dan Rio tertawa bersamaan melihat aksi perempuan tersebut.

“Nih, buka mulutnya. Aaa...” Shilla mengacungkan sepotong coklat di antara telunjuk dan ibu jarinya ke bibir Angel. Yang langsung disambut dengan senang hati olehnya.

“Eh, aku juga dong! Masa aku yang ngasih tapi Angel doang yang disuapin?” Rio mencondongkan tubuhnya ke depan. Lengkap dengan mulut terbuka lebar.

Angel kontan mencibir.

Shilla tertawa pelan. “Iya, deh. Nih...” Ia pun menyuapi lelaki di belakangnya. Masih dengan tawa geli. Berusaha melupakan kejadian sebelum berangkat tadi.

***

            “Oh, shit!” umpat Cakka pelan, sambil memukul stir di depannya.

“Dokter kenapa?” tanya Dokter Ify, kedengaran kaget. Padahal ia sendiri ikut menyaksikan tingkah Shilla dan Rio melalui kaca bus yang transparan di sebelah mereka.

“Gak pa-pa, Dok. Maaf, saya kelepasan.” Lelaki itu kembali memusatkan pandangannya ke depan. Ia bahkan menyalip bus yang dikendarai Shilla. Tak mau berlama-lama melihat tunangannya dekat dengan laki-laki lain.

“Di daerah penyuluhan nanti, saya dengar Dokter dan Shilla akan menginap di rumah mamanya Dokter Cakka, ya?” tanya Dokter Ify, mengalihkan pembicaraan.

“Iya, Dok.”

“Kira-kira saya nginap dimana, ya?” Perempuan itu terlihat menerawang. “Semoga yang punya rumah friendly, deh. Saya agak kikuk kalo sama orang baru soalnya.”

“Loh, bukannya Dokter Tio udah ngasih tau nama-nama warga yang rumahnya akan kita tempati nanti?” Cakka melirik perempuan itu sekilas.

“Iya, sih. Tadi Dokter Tio ngasih tau nama warga yang rumahnya bakal saya tinggali.”

“Trus, namanya siapa, Dok? Kebetulan saya kenal hampir semua tetangga mama saya di sana. Siapa tau sebentar saya bisa bantu ngenalin Dokter sama beliau.”

Dokter Ify langsung merogoh isi tas tangan yang berada di pangkuannya. Kemudian mengeluarkan handphone dan menekan beberapa tombol. “Nah, ini dia,” ucapnya saat menemukan pesan singkat Dokter Tio semalam. “Namanya... Ibu Idha.”

Kali ini, Cakka sontak menoleh dengan ekspresi terkejut. “Ibu Idha? Itu kan... mama saya!” 


*TBC*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remember Me #1 Versi CakShill

Oleh Andi Febrianti Pratiwi TUNANGAN? Karena cinta... Tidak akan pernah saling melupakan. Shilla keluar dari gedung Fakultas Kedokteran dengan setumpuk buku di genggamannya. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Dia harus buru-buru pulang ke rumah supaya bisa menyelesaikan semua tugas yang akan dikumpulkannya besok pagi.             Tiba-tiba, seorang lelaki tinggi, berkulit kecoklatan, berkacamata dengan kemeja kotak-kotak berwarna putih serta celana panjang jeans hitam yang baru saja turun dari mobil silver langsung menghampirinya.             “SURPRISEEEEE!!!” sorak lelaki itu sambil tersenyum manis dan merentangkan kedua tangannya. Tepat di hadapan Shilla.             Shilla menatapnya dengan dahi berkerut. “Lo siapa?” herannya. Merasa aneh dengan tingkah lelaki tersebut.  ...

Remember Me #ENDING Versi CakShill

Oleh Andi Febrianti Pratiwi             Rio menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. “Udahlah, Ngel... Kalo lo nangis gitu, bagus kalo Shilla langsung bangun. Ini malah bikin sakit kepala, tau!” Angel semakin sesenggukan. “Lo gak ngerti perasaan gue. Gue udah hampir empat taun sahabatan sama Shilla. Gue gak tega ngeliat dia tiba-tiba koma dan penuh luka kayak gini. Hiks...” Lelaki dengan sweater putih tersebut mendesah frustasi. “Gue pernah pacaran sama dia waktu SMP. Which is sembilan tahun yang lalu,” ucapnya. “Lagian, kita di sini bukan buat sedih-sedihan. Harusnya kita doain Shilla biar cepet sembuh. Itu yang paling dia butuhin. Gue juga yakin, pelayanan di rumah sakit ini yang terbaik.” Perempuan berlesung pipi itu tetap menangis. Walau tak sekeras tadi. “Rio bener, Ngel. Shilla butuh doa dari kita semua, sementara dokter di sini mengusahakan yang terbaik buat dia.” Cakka ikut menatap na...