Langsung ke konten utama

Remember Me #ENDING Versi CakShill



            Rio menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. “Udahlah, Ngel... Kalo lo nangis gitu, bagus kalo Shilla langsung bangun. Ini malah bikin sakit kepala, tau!”

Angel semakin sesenggukan. “Lo gak ngerti perasaan gue. Gue udah hampir empat taun sahabatan sama Shilla. Gue gak tega ngeliat dia tiba-tiba koma dan penuh luka kayak gini. Hiks...”

Lelaki dengan sweater putih tersebut mendesah frustasi. “Gue pernah pacaran sama dia waktu SMP. Which is sembilan tahun yang lalu,” ucapnya. “Lagian, kita di sini bukan buat sedih-sedihan. Harusnya kita doain Shilla biar cepet sembuh. Itu yang paling dia butuhin. Gue juga yakin, pelayanan di rumah sakit ini yang terbaik.”

Perempuan berlesung pipi itu tetap menangis. Walau tak sekeras tadi.

“Rio bener, Ngel. Shilla butuh doa dari kita semua, sementara dokter di sini mengusahakan yang terbaik buat dia.” Cakka ikut menatap nanar ke arah tunangannya.

Mereka bertiga berdiri mengelilingi perempuan berbaju pasien tersebut. Sudah tiga hari Shilla dirawat di rumah sakit ini, tapi belum ada tanda-tanda dirinya akan siuman. Walaupun harus diakui, Shilla mengalami perkembangan yang signifikan selama di sini. Bahkan beberapa lukanya mulai mengering.

Saat ketiganya sibuk dengan pikiran masing-masing –diselingi isakan Angel sesekali–, tiba-tiba Rio mendapati jemari perempuan di depannya bergerak. Memang sekilas awalnya, ia bahkan berpikir hanya sedang berhalusinasi. Namun saat mata Shilla ikut terbuka, ia pun langsung berseru, “SHILLA?”

Cakka kontan terhenyak dari lamunannya. “SHILLA?” Ia ikut berseru. Kali ini, mengguncangkan lengan mungil itu tanpa sadar –saking shock-nya–.

Perempuan yang terbaring lemah itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Seperti mencoba menetralisir rasa silau yang menyeruak ke dalam pandangannya. “Auw,” ringisnya pelan. Kedua matanya kembali terpejam kuat.

“Rio, cepet panggil Dokter Kaka ke sini!” perintah Cakka seraya memegangi kepala tunangannya. Sebenarnya ia sangat ingin memeriksa keadaan Shilla dengan tangannya sendiri, tapi ini di luar wewenangnya.

Rio langsung melesat ke luar.

Beberapa saat kemudian, ia kembali bersama Dokter Kaka dan beberapa suster.
“Permisi, Dokter...” ujar dokter yang sudah berusia akhir empat puluhan tersebut. Membuat Cakka segera menyingkir dari sisi tempat tidur.

Dokter Kaka segera mengenakan stetoskop ke telinganya, lalu memeriksa detak jantung Shilla. Sedangkan perawat yang lain sibuk mengecek infus, oksigen, dan detak nadi di pergelangan tangan kiri perempuan itu. Ada juga yang mencatat sesuatu, entah apa.

Setelah itu, dokter tersebut membuka mata Shilla dengan ibu jarinya. “Shilla, kamu bisa dengar saya?” bisiknya sembari menyenteri bola mata perempuan itu, bergantian.

Shilla langsung membuka matanya saat Dokter Kaka memundurkan tubuhnya. Kedua alisnya bertaut. Kemudian menatap orang-orang di dalam ruangan tersebut satu per satu. Ia berdehem sejenak, seakan memperbaiki pita suara miliknya yang sudah hampir seminggu tak digunakan.

“Shilla, kamu merasakan sesuatu?” tanya Dokter Kaka lagi.

Beberapa pasang mata di sana memandangi Shilla, sama-sama menunggu jawaban.

Bruk! Pintu kamar dibuka dengan keras. Sosok ayah dan ibu perempuan itu menyeruak masuk. Masih dengan jas dokter dan ekspresi cemas luar biasa.

“Shilla? Kamu sudah sadar, Nak?” Ibu Shilla langsung berdiri di sebelah Dokter Kaka. Sang suami mengikuti di sebelahnya.

Masih dengan dahi berkerut, perempuan yang masih dalam posisi berbaring tersebut menatap kedua orangtuanya.

“Shilla... Kok kamu diem?” sela Cakka. Penasaran dengan respon tunangannya yang sedari tadi tak juga buka mulut.

Kali ini, pandangan penuh keheranan dipusatkan perempuan itu pada Cakka. “Shi... lla?” Ia balik bertanya. Suaranya serak sekali.

Hening sejenak. Bahkan tak ada suara desahan nafas sama sekali. Ruangan menjadi sarat akan ketegangan.

“Shilla siapa?” lanjut perempuan itu.

Mama sontak menutup mulutnya dengan tangan kanan. Menyembunyikan rasa kagetnya. Di belakangnya, Angel mengerjapkan mata dengan mulut menganga.

“Kamu kenapa, sayang?” Ayah Shilla memecah keheningan.

“Bapak... siapa?” tanya Shilla lagi. “Siapa Shilla? Kalian... siapa?” Ia mengedarkan pandangan ke semua orang yang ada di sekitarnya.

Kali ini, ruangan benar-benar seperti terselimut awan mendung. Pekat.

“Saya... Siapa?” tambah perempuan itu.

Bruk! Ibu Shilla langsung roboh, tak sadarkan diri.

***

            Perempuan itu bisa merasakan kesibukan di sekitarnya. Ia bisa merasakan tubuhnya sedang ditangani dengan intens. Ia bisa merasakan keributan, bahkan teriakan dokter di dekatnya. Namun tak bisa memberi repon, pun membuka mata. Mungkin efek obat bius atau apa, entahlah.

Tiba-tiba, beberapa potong kejadian memasuki memorinya. Tidak lagi berdesakan dan berebutan masuk seperti beberapa tahun terakhir, semuanya kini teratur.
Mengalir, seakan benar-benar kembali pada tempatnya semula. Diam-diam, perempuan yang tidak lain adalah Shilla itu tersenyum tipis. Sakit itu dilupakannya. Yang paling penting, ia sudah bisa mengingat.

***

I remember, the way you glanced at me
Yes I remember
I remember, when we caught a shooting star
Yes I remember

“Kamu kalo ngambek gitu cakepnya makin keliatan, deh.” Lelaki dengan celana pendek kargo dan kaus bergambar The Beatles tersebut ikut berbaring d sebelah Shilla. Langit malam dari atas rumput taman belakang rumah perempuan itu memang merupakan tujuan rutin keduanya setiap hari. Tak boleh terlewatkan.

“Lo pacaran aja sana sama tugas kampus! Lupain aja gue!” Shilla sontak menyentakkan tangan Cakka yang mengelus kepalanya.

Cakka menghela napas panjang. “Tugasku lagi bener-bener numpuk, sayang. Semuanya harus selesai besok, baru aku boleh ngajuin proposal tugas akhir. Aku mesti jelasin berapa kali, sih?”

“Bodo.” Perempuan dengan terusan polkadot tersebut membelakangi tubuh kekasihnya.

“Jadi ngambek, nih?” Lelaki yang malam itu menanggalkan kacamatanya malah mencolek pinggang Shilla, membuat perempuan berambut ikal tersebut tersentak. Kaget bercampur geli.

“Apaan, sih! Nyebelin!”

“Balik sini kalo gitu,” rajuk Cakka tanpa menghentikan aksi telunjuknya di pinggang sang kekasih.

“Gak mau! Sana lo! Balik aja pacaran sama tugas!”

“Beneran gak mau?”

“Menurut lo?”

“Oke.”

Hening.

Shilla kontan mengerutkan keningnya. What? Jangan bilang dia... beneran balik dan kerja tugas? Oh, God! Kapan sih cowok itu bisa peka dikit? Ck! batinnya. Lalu membalikkan tubuh, berniat kembali berbaring dalam posisi telentang dan menikmati langit malam yang penuh bintang.

Namun tiba-tiba, ia menoleh dan merasakan tubuh mungilnya ditarik paksa ke dalam rengkuhan hangat milik seseorang yang ternyata masih berbaring tepat di sebelah kirinya. Membuatnya berontak, apalagi saat sosok itu mendekatkan wajah dan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Sesuatu yang sebenarnya saat ia kenal, sangat akrab dengan kesehariannya tiga tahun ini. Diikuti desakan lidah yang memaksa masuk ke dalam mulutnya, juga jemari yang tersisip di antara rambut panjangnya.

Shilla terpaku. Entah naluri atau apa, ia malah menikmati hal tersebut. Matanya terpejam, sedangkan kedua tangannya meremas lengan lelaki itu.

Saat napas keduanya mulai tak beraturan, pemilik bibir yang tak lain adalah Cakka itu langsung menarik dirinya –sebelum tak terkontrol. “Apa aku harus nyium kamu dulu, baru kamu mau berhenti ngambek?”

Wajah Shilla seketika memerah. Kedua pipinya menggembung, tanda ia sedang menahan malu.

Cakka kontan tertawa. Ia lalu meraih tubuh kekasihnya mendekat, merapat dalam dadanya yang hangat. “Tapi aku gak keberatan kok kalo kamu ngambek terus, asal bisa sering-sering nyium.”

I remember, all the things that we shared
and the promise we made, just you and I
I remember, all the laughter we shared
All the wishes we made, upon the roof at dawn 
Do you remember?
When we were dancing in the rain in that december
And I remember, when my father thought you were a burglar

“Shilla! Ini hujan, kamu bisa berhenti kekanak-kanakan, gak? Mau sakit?” Teriakan lelaki itu teredam derasnya hujan.

Di depannya, sosok Shilla terus berjalan membelah hujan yang membasahi jalanan dekat sekolahnya. Dengan Cakka yang mengikuti dari belakang.

“Shill!!!” Cakka langsung mencekal pergelangan tangan kekasihnya tersebut, sebelum ia semakin jauh. Kemudian menariknya ke teras ruko yang tertutup untuk berteduh. Pakaian mereka berdua sudah basah kuyup. Ia dengan kemeja dan celana katun, sedangkan Shilla dengan seragam putih abu-abunya.

“Lo kalo gak niat jemput gue, bilang! Gak usah bikin gue nunggu kelamaan sampe dikira satpam sekolah!” sorak Shilla sambil menyentakkan genggaman kekasihnya dengan kasar. Meluapkan amarah.

“Bukannya aku udah bilang kalo mata kuliahku baru selesai pas sore? Kamu sendiri yang bilang mau nunggu, kan?” Emosi lelaki itu pun ikut terpancing. Pandangan teduhnya menghilang entah kemana.

“Oh, jadi sekarang kamu ngelimpahin kesalahannya sama aku? Gitu? Hebat banget!!!”

Baru saja Shilla hendak berlalu, lelaki yang kemejanya sudah berantakan tersebut kembali mencekal tangannya. “Oke! Oke! Aku yang salah. Puas?”

“Udah, deh. Gue udah gak tahan. Mending kita udahan aja sampe di sini.”
Perempuan yang kunciran rambutnya sudah awut-awutan itu kembali berusaha membebaskan tangannya, namun kali ini tidak berhasil. “Lepasin! Sakit, tau gak! Kasar banget sih jadi cowok!”

“Gak bakalan kalo kamu masih emosi gini.” Cakka menatap perempuan di depannya dengan tajam. Guntur menyela beberapa kali. “Coba liat mata aku. Dan ngomong kalo kamu udah gak sayang sama aku.”

Shilla kontan mengangkat wajahnya. Kemudian bertukar pandang dengan lelaki berkumis tipis dan hidung mancung tersebut. Ia menyadari, ada sesuatu yang berdesir di dadanya setiap bertatapan dengan pemilik mata teduh itu.

“Coba, aku mau denger ngomong kayak yang aku bilang tadi,” ulang Cakka.
Shilla membuka mulutnya sejenak, namun segera mengatupknnya kembali. Lidahnya kelu. Ia tidak terbiasa berbohong selama ini.

“Kenapa? Kok diem?”

“A-aku...” Perempuan itu langsung menunduk. Menghindari tatapan kekasihnya, lebih memilih terpaku pada kedua flat shoes miliknya yang dipenuhi bercak lumpur.

“Kamu nih... Ck!” Cakka tak melanjutkan kalimatnya. Lelaki bertubuh tegap dengan dada bidang dan perut rata tersebut memilih menarik tubuh kekasihnya ke dalam pelukan. Membiarkan tubuh mereka berbaur dalam keadaan basah kuyup.

Shilla menurut. Ia malah menyandarkan kepalanya ke dada Cakka. Memejamkan mata saat ciuman menenangkan milik lelaki itu mendarat di puncak kepalanya.

“Maafin aku, ya...” bisik Cakka.

Perempuan bertubuh mungil tersebut mengangguk pelan.

Cakka melepaskan pelukannya. “Kita pulang sekarang, yuk!”

Shilla mengangguk sambil tersenyum. Namun ia masih bergeming saat kekasihnya melangkah menjauhi ruko tempat mereka berteduh. Membuat langkah lebar Cakka terhenti –masih di bawah guyuran hujan.

“Kok masih di situ? Buruan!” Lelaki itu mengulurkan tangannya, minta diraih.

“Gendong,” rajuk Shilla.

Cakka buru-buru kembali ke naungan atap teras ruko. “Kamu jangan becanda, deh. Ini udah hampir magrib.”

“Siapa yang becanda?” Perempuan berseragam SMA tersebut melipat kedua tangannya di depan dada. “Karna kamu udah bikin aku nunggu hampir tiga jam, jadi sekarang kamu harus gendong aku sampe ke mobil. Titik.”

“Shill, aku markirnya jauh, loh. Gak usah macem-macem maunya.”

“Gak mau? Ya udah. Aku gak mau pulang bareng kamu. Mending jalan kaki sambil hujan-hujanan.”

“Shillaaa...” Cakka menggeram di akhir kalimatnya. Antara menahan gemas dan kesal.

“Apa?”

Lelaki itu pun langsung berjongkok di depan kekasihnya –dengan berat hati. Kontan saja membuat Shilla dengan senang hari menjatuhkan tubuh ke punggung bidangnya. Ia lalu berusaha berdiri. Walaupun mungil, menggendong Shilla ternyata butuh tenaga keras juga.

“Jalannya jangan cepet-cepet. Aku lagi ngenikmatin hujan.” Perempuan itu harus menepuk pundak Cakka berulang kali untuk mengikuti kemauannya.

“Hujannya deras banget, sayang. Mobilnya juga masih di depan sana,” balas Cakka.

“Biarin. Pokoknya aku mau lama-lama di bawah hujan.”

“Kalo kamu sakit, gimana?”

“Apa gunanya aku pacaran sama calon dokter kalo sama sakit aja takut?”

Cakka langsung menoleh. Kemudian tersenyum penuh arti dan menghentikan langkahnya. Mereka berdua bertatapan dalam diam. Lalu entah siapa yang memulai, bibir mereka sudah menyatu. Dibingkai oleh hujan deras.

I remember, the way you read your books
Yes I remember, the way you tied your shoes
Yes I remember, the cake you loved the most
Yes I remember, the way you drank you coffee
I remember, the way you glanced at me
Yes I remember, when we caught a shooting star
Yes I remember, when we were dancing in the rain in that december
And the way you smile at me, yes I remember
(Mocca – I Remember) ♫♪

***

            Hal pertama yang didengar Shilla setelah membuka matanya adalah mesin pendeteksi detak jantung yang sepertinya terletak tepat di sebelah telinganya. Sedang yang pertama dilihatnya adalah cahaya lampu di atas tempat tidur. Membuatnya harus mengerjapkan mata beberapa kali untuk menetralisir sinar.

“Shill? Shilla? Kamu udah sadar, sayang?” Merupakan suara kedua yang ia dengar, berasal dari sebelah kanannya. Ia pun menoleh sekuat tenaga, setelah sebelumnya menyadari bahwa lehernya di-gips sedemikian rupa.

“Kamu kenapa? Ada yang sakit? Aku panggil dokter dulu, ya!” Pemilik suara bernada khawatir tersebut berniat membalikkan tubuh, namun diurungkan saat mendengar deheman dari sosok yang masih terbaring di atas tempat tidur rumah sakit itu.

“Kenapa?” Lelaki yang tak lain adalah Cakka tersebut langsung mendekatkan telinganya ke arah sang tunangan.

“A...ir...” ujar Shilla dengan suara yang serak.

Cakka pun kontan menyodorkan segela air putih lengkap dengan sedotan ke depan bibir Shilla. Tangan kanannya menopang kepala bagian belakang perempuan itu, memudahkannya untuk minum.

Shilla menghabiskan setengah dari isi gelas tersebut. Lalu kembali berbaring. Napasnya mulai teratur.

“Aku panggil dokter dulu.”

“Gak usah,” sela Shilla cepat.

Kedua alis Cakka menyatu.

“Aku udah baikan, kok. Kamu di sini aja.”

Alis tebal milik lelaki itu masih bertaut, namun ia memilih menuruti kemauan perempuan di depannya. Kemudian kembali duduk di kursi samping tempat tidur, tempatnya menjaga sang tunangan sejak kondisinya membaik sehari yang lalu.

“Aku gak pernah ngerasa sesehat dan sebahagia ini sebelumnya,” ucap Shilla. Memecah keheningan yang sempat tercipta.

Cakka belum berani angkat bicara. Setahunya, dua hari yang lalu tunangannya ini bangun dari koma dengan raut heran. Lalu mengapa sekarang dirinya yang dibuat demikian?

“Cakka Kawekas Nuraga...”

Jantung lelaki itu langsung berdetak dua kali lebih cepat saat mendengar nama lengkapnya disebut.

“Aku... udah inget semuanya.”

Hening. Sedetik. Tiga puluh detik. Semenit.

“Se... Serius?” Suaranya bahkan tercekat di tenggorokoan.

Dan anggukan lemah Shilla-lah yang menjadi awal dari pelukan eratnya. Pelukan yang sarat akan rindu. Disertai kecupan berulang kali di dahi dan puncak kepala perempuan yang sangat dicintainya itu.

***

            “Saya sudah dengar cerita dari mereka.”

Suara berat itu kontan membuat tubuh jenjang milik Dokter Ify menyingkir dari depan pintu ruangan dimana Shilla dirawat. Tempat ia menyaksikan adegan –sok romantis menurutnya– sejak beberapa saat lalu.

Pemilik suara berat tersebut menghampiri Dokter Ify yang seketika langsung memasang ekspresi tegang. “Dokter yang sengaja memanipulasi mobil Cakka sampai remnya blong. Iya, kan?”

“Dok-Dokter tau darimana?” Dan saat itu juga, perempuan dengan long dress hitam itu langsung menyesali kalimatnya.

Lelaki berjas dokter di depannya spontan tertawa pelan. “Saya punya banyak mata, Dokter Ify. Apa sebesar itu perasaan Dokter pada calon menantu saya, sampai-sampai hampir menghilangkan nyawa anak saya sendiri?”

Dokter Ify sontak menyandarkan tubuhnya ke dinding rumah sakit tempat Dokter Zaenal –ayah Shilla– bekerja. Lunglai. “Saya... juga mencintainya, Dokter. Apa salah? Toh mereka belum menikah,” sahutnya lemah, dengan kepala tertunduk.

“Cinta itu tidak selamanya bisa memiliki, Dokter. Apalagi cinta yang dipaksakan, tidak ada indahnya sama sekali.”

“Tapi bukannya cinta juga perlu diperjuangkan?”

“Iya, jika keduanya sama-sama saling cinta. Kalau hanya satu yang memperjuangkan, sama saja dengan kesia-siaan.”

Perempuan itu tersenyum sinis. “Coba Shilla yang ada di posisi saya, apa Dokter masih bisa ngomong begitu?”

“Jelas. Saya tidak mau melihat Shilla memperjuangkan laki-laki, apalagi dengan tindakan bodoh menjurus kriminal seperti Dokter Ify,” balas Dokter Zaenal.
“Saya sebenarnya sudah berniat melaporkan tindakan ini ke polisi, saya sudah punya bukti dan saksi. Tapi karena istri saya tidak mau memperpanjang masalah, jadi saya juga cukup mengasihani anda.”

Dokter Ify bergeming.

“Dokter ini cantik. Bukan hal yang sulit untuk mencintai laki-laki lain. Dokter cuma butuh orang yang tepat.”

Tubuh perempuan bertubuh jenjang tersebut kembali tegak. Kemudian berbalik, hendak meninggalkan dokter senior itu.

“Saya cuma memberikan masukan, Dokter. Dan, oh iya. Saya harap Dokter membiarkan Cakka dan Shilla bahagia. Kebahagiaan Dokter bukan ditentukan oleh hubungan mereka,” tandas ayah Shilla. Sebelum Dokter Ify berlalu dari hadapannya.

***

Satu minggu kemudian...

            Tak ada hal-hal seru yang terjadi sepanjang minggu ini, kecuali Shilla yang terus merengek untuk dibawa pulang. Perempuan itu harus mogok makan dulu, baru diizinkan meninggalkan rumah sakit tempatnya dirawat selama sebulan terakhir ini.

Ia begitu merindukan suasana dan segala macam hal tentang rumah. Dan begitu ia kembali, entah mengapa tubuhnya jadi sehat. Semangatnya kembali.

“Sayang, kamu naik tangganya jangan sambil lompat-lompat gitu, dong! Ntar jahitannya kebuka, gimana?” Teriakan Cakka muncul dari bawah.

“Apaan, sih? Emangnya aku abis melahirkan? Jangan lebay, deh! Aku udah sembuh, tau!” sahutnya, cuek.

Cakka berdecak gemas seraya ikut menaiki tangga menuju kamarnya yang terletak tepat di seberang kamar Shilla di lantai atas. Ayah dan ibu perempuan itu masih sibuk di rumah sakit. Jadi –lagi-lagi– hanya mereka berdua di rumah ini.

Lelaki dengan baju kaus putih bertuliskan ‘engagement with pretty woman’ tersebut menyandarkan tubuh tegap miliknya ke sisi pintu kamar Shilla sejenak. Kemudian ikut memasuki kamar itu, menghampiri tunangannya di atas tempat tidur.

“Aku bahagia banget loh sekarang. Gak pa-pa deh kecelakaan sampe badan penuh luka gini kalo akhirnya bisa inget sama kamu,” ujar perempuan berkaus putih bertuliskan ‘engagement with awesome man’ tersebut. Sepasang kaus yang mereka buat beberapa tahun lalu, sebelum Cakka memutuskan pindah ke Australia. Senyumnya merekah.

Di sebelahnya, senyum Cakka tak kalah lebar. “Aku lebih bahagia lagi. Lebih dari apapun di muka bumi saat ini.”

Hening.

Shilla sibuk mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, sedangkan Cakka sendiri sibuk menatap wajah perempuan itu.

Dan entah naluri darimana, lelaki yang rambutnya mulai menyentuh tengkuk tersebut memutuskan jarak dengan tunangannya. Hingga kedua tubuh mereka saling menyentuh, bibir keduanya saling bertaut, dan jemari yang sibuk menyampaikan rindu lewat genggaman.

Tiba-tiba, Shilla menarik wajahnya yang merona dan napas terengah.

Cakka menatapnya dengan dahi berkerut.

“Aku... buatin kamu cappucino dulu. Kamu belum sarapan, kan? Hm, sekalian roti bakar selai kacangnya, gak? Kamu masih suka?”

Lelaki itu kontan tersenyum, lalu mengangguk. “aku selalu suka masakan kamu. Bikinnya pake cinta, ya! Itu yang paling penting, jangan lupa!”

Shilla tertawa sekilas, kemudian melangkah –setengah berlari– meninggalkan kamar setelah bibirnya kembali dikecup mesra oleh sang tunangan.

I remember, the way you read your books
Yes I remember, the way you tied your shoes
Yes I remember, the cake you loved the most
Yes I remember, the way you drank you coffee
I remember, the way you glanced at me
Yes I remember, when we caught a shooting star
Yes I remember, when we were dancing in the rain in that december
And the way you smile at me, yes I remember ♫♪


*END*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remember Me #1 Versi CakShill

Oleh Andi Febrianti Pratiwi TUNANGAN? Karena cinta... Tidak akan pernah saling melupakan. Shilla keluar dari gedung Fakultas Kedokteran dengan setumpuk buku di genggamannya. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Dia harus buru-buru pulang ke rumah supaya bisa menyelesaikan semua tugas yang akan dikumpulkannya besok pagi.             Tiba-tiba, seorang lelaki tinggi, berkulit kecoklatan, berkacamata dengan kemeja kotak-kotak berwarna putih serta celana panjang jeans hitam yang baru saja turun dari mobil silver langsung menghampirinya.             “SURPRISEEEEE!!!” sorak lelaki itu sambil tersenyum manis dan merentangkan kedua tangannya. Tepat di hadapan Shilla.             Shilla menatapnya dengan dahi berkerut. “Lo siapa?” herannya. Merasa aneh dengan tingkah lelaki tersebut.  ...

Remember Me #9 Versi CakShill

Oleh Andi Febrianti Pratiwi “Kamu ngomong apa, sih?” sorak Cakka, meluapkan emosinya. Seharian ini ia sudah dibuat stress gara-gara masalah rumah sakit, kampus, mobil mogok, Shilla tiba-tiba menghilang dan pulang bersama Rio, sekarang apa lagi? Perempuan itu membatalkan pertunangan? Apa tidak cukup masalahnya seharian ini? “Pertunangan ini gak bisa aku lanjutin lagi,” balas Shilla. “Maafin aku selama ini.” “Shilla, please... Kamu kenapa? Oke, aku minta maaf. Kamu boleh nyuruh aku apa aja. Kamu boleh mukul aku sampe babak belur sekalipun, tapi kamu jangan mutusin sesuatu dengan gampang!” Cakka membekap kepalanya sendiri. Membuat rambutnya yang sudah menutupi telinga jadi berantakan. Perempuan itu terdiam. “Asal kamu tau, kita udah tunangan enam tahun ini. Kamu pikir gampang memutuskan semuanya dalam waktu beberapa menit aja? Hah?” seru Cakka, frustasi. “Aku gak inget apapun tentang kamu.” “Iya, aku tau! Trus kamu pikir aku bakal nerima keputusan ka...