Rio menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. “Udahlah, Ngel... Kalo lo
nangis gitu, bagus kalo Shilla langsung bangun. Ini malah bikin
sakit kepala, tau!”
Angel semakin
sesenggukan. “Lo gak ngerti perasaan gue. Gue udah hampir empat taun sahabatan
sama Shilla. Gue gak tega ngeliat dia tiba-tiba koma dan penuh luka kayak gini.
Hiks...”
Lelaki dengan sweater
putih tersebut mendesah frustasi. “Gue pernah pacaran sama dia waktu SMP. Which
is sembilan tahun yang lalu,” ucapnya. “Lagian, kita di sini bukan buat
sedih-sedihan. Harusnya kita doain Shilla biar cepet sembuh. Itu yang paling
dia butuhin. Gue juga yakin, pelayanan di rumah sakit ini yang terbaik.”
Perempuan berlesung
pipi itu tetap menangis. Walau tak sekeras tadi.
“Rio bener, Ngel.
Shilla butuh doa dari kita semua, sementara dokter di sini mengusahakan yang
terbaik buat dia.” Cakka ikut menatap nanar ke arah tunangannya.
Mereka bertiga berdiri
mengelilingi perempuan berbaju pasien tersebut. Sudah tiga hari Shilla dirawat
di rumah sakit ini, tapi belum ada tanda-tanda dirinya akan siuman. Walaupun
harus diakui, Shilla mengalami perkembangan yang signifikan selama di sini.
Bahkan beberapa lukanya mulai mengering.
Saat ketiganya sibuk
dengan pikiran masing-masing –diselingi isakan Angel sesekali–, tiba-tiba Rio
mendapati jemari perempuan di depannya bergerak. Memang sekilas awalnya, ia
bahkan berpikir hanya sedang berhalusinasi. Namun saat mata Shilla ikut terbuka,
ia pun langsung berseru, “SHILLA?”
Cakka kontan terhenyak
dari lamunannya. “SHILLA?” Ia ikut berseru. Kali ini, mengguncangkan lengan
mungil itu tanpa sadar –saking shock-nya–.
Perempuan yang
terbaring lemah itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Seperti mencoba
menetralisir rasa silau yang menyeruak ke dalam pandangannya. “Auw,” ringisnya
pelan. Kedua matanya kembali terpejam kuat.
“Rio, cepet panggil
Dokter Kaka ke sini!” perintah Cakka seraya memegangi kepala tunangannya.
Sebenarnya ia sangat ingin memeriksa keadaan Shilla dengan tangannya sendiri,
tapi ini di luar wewenangnya.
Rio langsung melesat
ke luar.
Beberapa saat
kemudian, ia kembali bersama Dokter Kaka dan beberapa suster.
“Permisi, Dokter...”
ujar dokter yang sudah berusia akhir empat puluhan tersebut. Membuat Cakka
segera menyingkir dari sisi tempat tidur.
Dokter Kaka segera
mengenakan stetoskop ke telinganya, lalu memeriksa detak jantung Shilla.
Sedangkan perawat yang lain sibuk mengecek infus, oksigen, dan detak nadi di
pergelangan tangan kiri perempuan itu. Ada juga yang mencatat sesuatu, entah
apa.
Setelah itu, dokter
tersebut membuka mata Shilla dengan ibu jarinya. “Shilla, kamu bisa dengar
saya?” bisiknya sembari menyenteri bola mata perempuan itu, bergantian.
Shilla langsung
membuka matanya saat Dokter Kaka memundurkan tubuhnya. Kedua alisnya bertaut.
Kemudian menatap orang-orang di dalam ruangan tersebut satu per satu. Ia
berdehem sejenak, seakan memperbaiki pita suara miliknya yang sudah hampir
seminggu tak digunakan.
“Shilla, kamu
merasakan sesuatu?” tanya Dokter Kaka lagi.
Beberapa pasang mata
di sana memandangi Shilla, sama-sama menunggu jawaban.
Bruk! Pintu kamar
dibuka dengan keras. Sosok ayah dan ibu perempuan itu menyeruak masuk. Masih
dengan jas dokter dan ekspresi cemas luar biasa.
“Shilla? Kamu sudah
sadar, Nak?” Ibu Shilla langsung berdiri di sebelah Dokter Kaka. Sang suami
mengikuti di sebelahnya.
Masih dengan dahi
berkerut, perempuan yang masih dalam posisi berbaring tersebut menatap kedua
orangtuanya.
“Shilla... Kok kamu
diem?” sela Cakka. Penasaran dengan respon tunangannya yang sedari tadi tak
juga buka mulut.
Kali ini, pandangan
penuh keheranan dipusatkan perempuan itu pada Cakka. “Shi... lla?” Ia balik
bertanya. Suaranya serak sekali.
Hening sejenak. Bahkan
tak ada suara desahan nafas sama sekali. Ruangan menjadi sarat akan ketegangan.
“Shilla siapa?” lanjut
perempuan itu.
Mama sontak menutup
mulutnya dengan tangan kanan. Menyembunyikan rasa kagetnya. Di belakangnya,
Angel mengerjapkan mata dengan mulut menganga.
“Kamu kenapa, sayang?”
Ayah Shilla memecah keheningan.
“Bapak... siapa?”
tanya Shilla lagi. “Siapa Shilla? Kalian... siapa?” Ia mengedarkan pandangan ke
semua orang yang ada di sekitarnya.
Kali ini, ruangan
benar-benar seperti terselimut awan mendung. Pekat.
“Saya... Siapa?”
tambah perempuan itu.
Bruk! Ibu Shilla
langsung roboh, tak sadarkan diri.
***
Perempuan itu bisa merasakan kesibukan di sekitarnya. Ia bisa merasakan
tubuhnya sedang ditangani dengan intens. Ia bisa merasakan keributan, bahkan
teriakan dokter di dekatnya. Namun tak bisa memberi repon, pun membuka mata.
Mungkin efek obat bius atau apa, entahlah.
Tiba-tiba, beberapa
potong kejadian memasuki memorinya. Tidak lagi berdesakan dan berebutan masuk
seperti beberapa tahun terakhir, semuanya kini teratur.
Mengalir, seakan
benar-benar kembali pada tempatnya semula. Diam-diam, perempuan yang tidak lain
adalah Shilla itu tersenyum tipis. Sakit itu dilupakannya. Yang paling penting,
ia sudah bisa mengingat.
***
I
remember, the way you glanced at me
Yes
I remember
I
remember, when we caught a shooting star
Yes
I remember
“Kamu kalo ngambek
gitu cakepnya makin keliatan, deh.” Lelaki dengan celana pendek kargo dan kaus
bergambar The Beatles tersebut ikut berbaring d sebelah Shilla. Langit malam
dari atas rumput taman belakang rumah perempuan itu memang merupakan tujuan
rutin keduanya setiap hari. Tak boleh terlewatkan.
“Lo pacaran aja sana
sama tugas kampus! Lupain aja gue!” Shilla sontak menyentakkan tangan Cakka
yang mengelus kepalanya.
Cakka menghela napas
panjang. “Tugasku lagi bener-bener numpuk, sayang. Semuanya harus selesai
besok, baru aku boleh ngajuin proposal tugas akhir. Aku mesti jelasin berapa
kali, sih?”
“Bodo.” Perempuan
dengan terusan polkadot tersebut membelakangi tubuh kekasihnya.
“Jadi ngambek, nih?”
Lelaki yang malam itu menanggalkan kacamatanya malah mencolek pinggang Shilla,
membuat perempuan berambut ikal tersebut tersentak. Kaget bercampur geli.
“Apaan, sih!
Nyebelin!”
“Balik sini kalo
gitu,” rajuk Cakka tanpa menghentikan aksi telunjuknya di pinggang sang
kekasih.
“Gak mau! Sana lo!
Balik aja pacaran sama tugas!”
“Beneran gak mau?”
“Menurut lo?”
“Oke.”
Hening.
Shilla kontan
mengerutkan keningnya. What? Jangan bilang dia... beneran balik dan kerja
tugas? Oh, God! Kapan sih cowok itu bisa peka dikit? Ck! batinnya. Lalu
membalikkan tubuh, berniat kembali berbaring dalam posisi telentang dan
menikmati langit malam yang penuh bintang.
Namun tiba-tiba, ia menoleh
dan merasakan tubuh mungilnya ditarik paksa ke dalam rengkuhan hangat milik
seseorang yang ternyata masih berbaring tepat di sebelah kirinya. Membuatnya
berontak, apalagi saat sosok itu mendekatkan wajah dan sesuatu yang lembut
menyentuh bibirnya. Sesuatu yang sebenarnya saat ia kenal, sangat akrab dengan
kesehariannya tiga tahun ini. Diikuti desakan lidah yang memaksa masuk ke dalam
mulutnya, juga jemari yang tersisip di antara rambut panjangnya.
Shilla terpaku. Entah
naluri atau apa, ia malah menikmati hal tersebut. Matanya terpejam, sedangkan
kedua tangannya meremas lengan lelaki itu.
Saat napas keduanya
mulai tak beraturan, pemilik bibir yang tak lain adalah Cakka itu langsung
menarik dirinya –sebelum tak terkontrol. “Apa aku harus nyium kamu dulu, baru
kamu mau berhenti ngambek?”
Wajah Shilla seketika
memerah. Kedua pipinya menggembung, tanda ia sedang menahan malu.
Cakka kontan tertawa.
Ia lalu meraih tubuh kekasihnya mendekat, merapat dalam dadanya yang hangat.
“Tapi aku gak keberatan kok kalo kamu ngambek terus, asal bisa sering-sering
nyium.”
I
remember, all the things that we shared
and
the promise we made, just you and I
I
remember, all the laughter we shared
All
the wishes we made, upon the roof at dawn
Do
you remember?
When
we were dancing in the rain in that december
And
I remember, when my father thought you were a burglar
“Shilla! Ini hujan,
kamu bisa berhenti kekanak-kanakan, gak? Mau sakit?” Teriakan lelaki itu
teredam derasnya hujan.
Di depannya, sosok
Shilla terus berjalan membelah hujan yang membasahi jalanan dekat sekolahnya.
Dengan Cakka yang mengikuti dari belakang.
“Shill!!!” Cakka
langsung mencekal pergelangan tangan kekasihnya tersebut, sebelum ia semakin
jauh. Kemudian menariknya ke teras ruko yang tertutup untuk berteduh. Pakaian
mereka berdua sudah basah kuyup. Ia dengan kemeja dan celana katun, sedangkan
Shilla dengan seragam putih abu-abunya.
“Lo kalo gak niat
jemput gue, bilang! Gak usah bikin gue nunggu kelamaan sampe dikira satpam
sekolah!” sorak Shilla sambil menyentakkan genggaman kekasihnya dengan kasar.
Meluapkan amarah.
“Bukannya aku udah
bilang kalo mata kuliahku baru selesai pas sore? Kamu sendiri yang bilang mau
nunggu, kan?” Emosi lelaki itu pun ikut terpancing. Pandangan teduhnya
menghilang entah kemana.
“Oh, jadi sekarang
kamu ngelimpahin kesalahannya sama aku? Gitu? Hebat banget!!!”
Baru saja Shilla
hendak berlalu, lelaki yang kemejanya sudah berantakan tersebut kembali
mencekal tangannya. “Oke! Oke! Aku yang salah. Puas?”
“Udah, deh. Gue udah
gak tahan. Mending kita udahan aja sampe di sini.”
Perempuan yang
kunciran rambutnya sudah awut-awutan itu kembali berusaha membebaskan
tangannya, namun kali ini tidak berhasil. “Lepasin! Sakit, tau gak! Kasar
banget sih jadi cowok!”
“Gak bakalan kalo kamu
masih emosi gini.” Cakka menatap perempuan di depannya dengan tajam. Guntur
menyela beberapa kali. “Coba liat mata aku. Dan ngomong kalo kamu udah gak
sayang sama aku.”
Shilla kontan
mengangkat wajahnya. Kemudian bertukar pandang dengan lelaki berkumis tipis dan
hidung mancung tersebut. Ia menyadari, ada sesuatu yang berdesir di dadanya
setiap bertatapan dengan pemilik mata teduh itu.
“Coba, aku mau denger
ngomong kayak yang aku bilang tadi,” ulang Cakka.
Shilla membuka
mulutnya sejenak, namun segera mengatupknnya kembali. Lidahnya kelu. Ia tidak
terbiasa berbohong selama ini.
“Kenapa? Kok diem?”
“A-aku...” Perempuan
itu langsung menunduk. Menghindari tatapan kekasihnya, lebih memilih terpaku
pada kedua flat shoes miliknya yang dipenuhi bercak lumpur.
“Kamu nih... Ck!”
Cakka tak melanjutkan kalimatnya. Lelaki bertubuh tegap dengan dada bidang dan
perut rata tersebut memilih menarik tubuh kekasihnya ke dalam pelukan.
Membiarkan tubuh mereka berbaur dalam keadaan basah kuyup.
Shilla menurut. Ia
malah menyandarkan kepalanya ke dada Cakka. Memejamkan mata saat ciuman
menenangkan milik lelaki itu mendarat di puncak kepalanya.
“Maafin aku, ya...”
bisik Cakka.
Perempuan bertubuh
mungil tersebut mengangguk pelan.
Cakka melepaskan
pelukannya. “Kita pulang sekarang, yuk!”
Shilla mengangguk
sambil tersenyum. Namun ia masih bergeming saat kekasihnya melangkah menjauhi
ruko tempat mereka berteduh. Membuat langkah lebar Cakka terhenti –masih di
bawah guyuran hujan.
“Kok masih di situ?
Buruan!” Lelaki itu mengulurkan tangannya, minta diraih.
“Gendong,” rajuk
Shilla.
Cakka buru-buru
kembali ke naungan atap teras ruko. “Kamu jangan becanda, deh. Ini udah hampir
magrib.”
“Siapa yang becanda?”
Perempuan berseragam SMA tersebut melipat kedua tangannya di depan dada. “Karna
kamu udah bikin aku nunggu hampir tiga jam, jadi sekarang kamu harus gendong
aku sampe ke mobil. Titik.”
“Shill, aku markirnya
jauh, loh. Gak usah macem-macem maunya.”
“Gak mau? Ya udah. Aku
gak mau pulang bareng kamu. Mending jalan kaki sambil hujan-hujanan.”
“Shillaaa...” Cakka
menggeram di akhir kalimatnya. Antara menahan gemas dan kesal.
“Apa?”
Lelaki itu pun
langsung berjongkok di depan kekasihnya –dengan berat hati. Kontan saja membuat
Shilla dengan senang hari menjatuhkan tubuh ke punggung bidangnya. Ia lalu
berusaha berdiri. Walaupun mungil, menggendong Shilla ternyata butuh tenaga
keras juga.
“Jalannya jangan
cepet-cepet. Aku lagi ngenikmatin hujan.” Perempuan itu harus menepuk pundak
Cakka berulang kali untuk mengikuti kemauannya.
“Hujannya deras
banget, sayang. Mobilnya juga masih di depan sana,” balas Cakka.
“Biarin. Pokoknya aku
mau lama-lama di bawah hujan.”
“Kalo kamu sakit,
gimana?”
“Apa gunanya aku
pacaran sama calon dokter kalo sama sakit aja takut?”
Cakka langsung
menoleh. Kemudian tersenyum penuh arti dan menghentikan langkahnya. Mereka
berdua bertatapan dalam diam. Lalu entah siapa yang memulai, bibir mereka sudah
menyatu. Dibingkai oleh hujan deras.
I
remember, the way you read your books
Yes
I remember, the way you tied your shoes
Yes
I remember, the cake you loved the most
Yes
I remember, the way you drank you coffee
I
remember, the way you glanced at me
Yes
I remember, when we caught a shooting star
Yes
I remember, when we were dancing in the rain in that december
And
the way you smile at me, yes I remember
(Mocca – I Remember) ♫♪
***
Hal pertama yang didengar Shilla setelah membuka matanya adalah mesin
pendeteksi detak jantung yang sepertinya terletak tepat di sebelah telinganya.
Sedang yang pertama dilihatnya adalah cahaya lampu di atas tempat tidur.
Membuatnya harus mengerjapkan mata beberapa kali untuk menetralisir sinar.
“Shill? Shilla? Kamu
udah sadar, sayang?” Merupakan suara kedua yang ia dengar, berasal dari sebelah
kanannya. Ia pun menoleh sekuat tenaga, setelah sebelumnya menyadari bahwa
lehernya di-gips sedemikian rupa.
“Kamu kenapa? Ada yang
sakit? Aku panggil dokter dulu, ya!” Pemilik suara bernada khawatir tersebut
berniat membalikkan tubuh, namun diurungkan saat mendengar deheman dari sosok
yang masih terbaring di atas tempat tidur rumah sakit itu.
“Kenapa?” Lelaki yang
tak lain adalah Cakka tersebut langsung mendekatkan telinganya ke arah sang
tunangan.
“A...ir...” ujar
Shilla dengan suara yang serak.
Cakka pun kontan
menyodorkan segela air putih lengkap dengan sedotan ke depan bibir Shilla.
Tangan kanannya menopang kepala bagian belakang perempuan itu, memudahkannya
untuk minum.
Shilla menghabiskan
setengah dari isi gelas tersebut. Lalu kembali berbaring. Napasnya mulai
teratur.
“Aku panggil dokter
dulu.”
“Gak usah,” sela
Shilla cepat.
Kedua alis Cakka
menyatu.
“Aku udah baikan, kok.
Kamu di sini aja.”
Alis tebal milik
lelaki itu masih bertaut, namun ia memilih menuruti kemauan perempuan di
depannya. Kemudian kembali duduk di kursi samping tempat tidur, tempatnya
menjaga sang tunangan sejak kondisinya membaik sehari yang lalu.
“Aku gak pernah
ngerasa sesehat dan sebahagia ini sebelumnya,” ucap Shilla. Memecah keheningan
yang sempat tercipta.
Cakka belum berani
angkat bicara. Setahunya, dua hari yang lalu tunangannya ini bangun dari koma
dengan raut heran. Lalu mengapa sekarang dirinya yang dibuat demikian?
“Cakka Kawekas
Nuraga...”
Jantung lelaki itu
langsung berdetak dua kali lebih cepat saat mendengar nama lengkapnya disebut.
“Aku... udah inget
semuanya.”
Hening. Sedetik. Tiga
puluh detik. Semenit.
“Se... Serius?”
Suaranya bahkan tercekat di tenggorokoan.
Dan anggukan lemah
Shilla-lah yang menjadi awal dari pelukan eratnya. Pelukan yang sarat akan
rindu. Disertai kecupan berulang kali di dahi dan puncak kepala perempuan yang
sangat dicintainya itu.
***
“Saya sudah dengar cerita dari mereka.”
Suara berat itu kontan
membuat tubuh jenjang milik Dokter Ify menyingkir dari depan pintu ruangan
dimana Shilla dirawat. Tempat ia menyaksikan adegan –sok romantis menurutnya–
sejak beberapa saat lalu.
Pemilik suara berat
tersebut menghampiri Dokter Ify yang seketika langsung memasang ekspresi
tegang. “Dokter yang sengaja memanipulasi mobil Cakka sampai remnya blong. Iya,
kan?”
“Dok-Dokter tau
darimana?” Dan saat itu juga, perempuan dengan long dress hitam itu langsung
menyesali kalimatnya.
Lelaki berjas dokter
di depannya spontan tertawa pelan. “Saya punya banyak mata, Dokter Ify. Apa
sebesar itu perasaan Dokter pada calon menantu saya, sampai-sampai hampir
menghilangkan nyawa anak saya sendiri?”
Dokter Ify sontak
menyandarkan tubuhnya ke dinding rumah sakit tempat Dokter Zaenal –ayah Shilla–
bekerja. Lunglai. “Saya... juga mencintainya, Dokter. Apa salah? Toh mereka
belum menikah,” sahutnya lemah, dengan kepala tertunduk.
“Cinta itu tidak
selamanya bisa memiliki, Dokter. Apalagi cinta yang dipaksakan, tidak ada
indahnya sama sekali.”
“Tapi bukannya cinta
juga perlu diperjuangkan?”
“Iya, jika keduanya
sama-sama saling cinta. Kalau hanya satu yang memperjuangkan, sama saja dengan
kesia-siaan.”
Perempuan itu
tersenyum sinis. “Coba Shilla yang ada di posisi saya, apa Dokter masih bisa
ngomong begitu?”
“Jelas. Saya tidak mau
melihat Shilla memperjuangkan laki-laki, apalagi dengan tindakan bodoh menjurus
kriminal seperti Dokter Ify,” balas Dokter Zaenal.
“Saya sebenarnya sudah
berniat melaporkan tindakan ini ke polisi, saya sudah punya bukti dan saksi.
Tapi karena istri saya tidak mau memperpanjang masalah, jadi saya juga cukup
mengasihani anda.”
Dokter Ify bergeming.
“Dokter ini cantik.
Bukan hal yang sulit untuk mencintai laki-laki lain. Dokter cuma butuh orang
yang tepat.”
Tubuh perempuan
bertubuh jenjang tersebut kembali tegak. Kemudian berbalik, hendak meninggalkan
dokter senior itu.
“Saya cuma memberikan
masukan, Dokter. Dan, oh iya. Saya harap Dokter membiarkan Cakka dan Shilla
bahagia. Kebahagiaan Dokter bukan ditentukan oleh hubungan mereka,” tandas ayah
Shilla. Sebelum Dokter Ify berlalu dari hadapannya.
***
Satu
minggu kemudian...
Tak ada hal-hal seru yang terjadi sepanjang minggu ini, kecuali Shilla yang
terus merengek untuk dibawa pulang. Perempuan itu harus mogok makan dulu, baru
diizinkan meninggalkan rumah sakit tempatnya dirawat selama sebulan terakhir
ini.
Ia begitu merindukan
suasana dan segala macam hal tentang rumah. Dan begitu ia kembali, entah
mengapa tubuhnya jadi sehat. Semangatnya kembali.
“Sayang, kamu naik
tangganya jangan sambil lompat-lompat gitu, dong! Ntar jahitannya kebuka,
gimana?” Teriakan Cakka muncul dari bawah.
“Apaan, sih? Emangnya
aku abis melahirkan? Jangan lebay, deh! Aku udah sembuh, tau!” sahutnya, cuek.
Cakka berdecak gemas
seraya ikut menaiki tangga menuju kamarnya yang terletak tepat di seberang
kamar Shilla di lantai atas. Ayah dan ibu perempuan itu masih sibuk di rumah
sakit. Jadi –lagi-lagi– hanya mereka berdua di rumah ini.
Lelaki dengan baju
kaus putih bertuliskan ‘engagement with pretty woman’ tersebut menyandarkan
tubuh tegap miliknya ke sisi pintu kamar Shilla sejenak. Kemudian ikut memasuki
kamar itu, menghampiri tunangannya di atas tempat tidur.
“Aku bahagia banget
loh sekarang. Gak pa-pa deh kecelakaan sampe badan penuh luka gini kalo
akhirnya bisa inget sama kamu,” ujar perempuan berkaus putih bertuliskan
‘engagement with awesome man’ tersebut. Sepasang kaus yang mereka buat beberapa
tahun lalu, sebelum Cakka memutuskan pindah ke Australia. Senyumnya merekah.
Di sebelahnya, senyum
Cakka tak kalah lebar. “Aku lebih bahagia lagi. Lebih dari apapun di muka bumi
saat ini.”
Hening.
Shilla sibuk
mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, sedangkan Cakka sendiri sibuk
menatap wajah perempuan itu.
Dan entah naluri
darimana, lelaki yang rambutnya mulai menyentuh tengkuk tersebut memutuskan
jarak dengan tunangannya. Hingga kedua tubuh mereka saling menyentuh, bibir
keduanya saling bertaut, dan jemari yang sibuk menyampaikan rindu lewat
genggaman.
Tiba-tiba, Shilla
menarik wajahnya yang merona dan napas terengah.
Cakka menatapnya
dengan dahi berkerut.
“Aku... buatin kamu
cappucino dulu. Kamu belum sarapan, kan? Hm, sekalian roti bakar selai
kacangnya, gak? Kamu masih suka?”
Lelaki itu kontan
tersenyum, lalu mengangguk. “aku selalu suka masakan kamu. Bikinnya pake
cinta, ya! Itu yang paling penting, jangan lupa!”
Shilla tertawa
sekilas, kemudian melangkah –setengah berlari– meninggalkan kamar setelah
bibirnya kembali dikecup mesra oleh sang tunangan.
I
remember, the way you read your books
Yes
I remember, the way you tied your shoes
Yes
I remember, the cake you loved the most
Yes
I remember, the way you drank you coffee
I
remember, the way you glanced at me
Yes
I remember, when we caught a shooting star
Yes
I remember, when we were dancing in the rain in that december
And
the way you smile at me, yes I remember ♫♪
*END*
Komentar
Posting Komentar