Oleh
Sang dosen tersenyum tipis. “Ternyata selain tidak mempedulikan
dosen baru, kamu juga terbiasa mengucapkan gue-elo kepada dosen? Hah?”
Kali ini, Shilla menganga. “Elo dosen? Jangan becanda, deh! Elo bukannya ke
sini buat kerja? Lo bukan dosen, kan?” Ia berdiri dari duduknya. Sukses membuat
kelas hening dan semua tatapan mata tertuju ke arahnya.
“Kamu pikir dosen itu bukan sebuah pekerjaan, saudari Ashilla Zahrantiara?”
balas sang dosen. Ia melipat tangannya di depan dada.
Shilla mendengus. Kesal. Mana mungkin?
Belum sempat mengeluarkan kalimat selanjutnya, Cakka sudah berjalan ke whiteboard.
Lalu menuliskan sesuatu di sana. Dr. Cakka Kawekas Nuraga, S.Ked. “Ini nama
lengkap saya. Kalian boleh memanggil saya Dokter Cakka. Tapi kalau kita bertemu
di luar wilayah kampus, kalian bisa memanggil saya Kak Cakka. Atau mungkin, ada
yang mau menyebut saya ‘elo’ seperti yang dilakukan Shilla?” ucap lelaki
berkacamata itu lantang.
Lagi-lagi, seisi kelas menatap ke arah Shilla yang sudah siap melahap dosen di
depannya tersebut. Kedua tangannya sudah terkepal di atas meja.
“Shill, lo kenal sama dia?” lirih Angel. Agak ngeri dengan ekspresi sahabatnya
sekarang.
“Do you still remember about our conversation a few minutes ago?” Shilla
balik bertanya. Tatapannya tetap melekat pada sosok Cakka. “Actually,
he’s
my
big problem!”
***
Shilla melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa. Menyusuri koridor-koridor dari
lantai tiga hingga lantai satu gedung fakultasnya. Berharap luput dari
pandangan seseorang yang sangat dihindarinya saat ini.
Saat sudah sampai di parkiran, ia menyempatkan diri menoleh ke tempat Cakka
memarkirkan mobilnya tadi pagi. Nihil. Mobil Cakka sudah menghilang. Padahal,
bisa dipastikan lelaki itu tidak akan membiarkan Shilla menghindarinya. Tapi
akhirnya, Shilla tersenyum lega juga. Tanpa sadar, langkahnya berubah pelan.
“Tiiiiiiiinnnnnnnnnn!!!” Bunyi klakson mobil yang melengking tinggi sontak
mengagetkan Shilla yang sedang berjalan ke arah jalan raya di depan kampus.
Baru berniat mengomel panjang lebar sambil mengelus dada, ia langsung bungkam.
“Kenapa? Kaget?” tanya sesosok lelaki yang baru saja turun dari mobil tersebut.
“Kamu mau kemana? Daritadi keliatan buru-buru banget. Mau kabur?” lanjutnya. Ia
berjalan mendekati Shilla. Hingga jarak mereka tinggal beberapa
sentimeter lagi.
“Gue bisa pulang naik taksi,” tukas Shilla. Ia memeluk erat-erat buku di
genggamannya.
“Siapa bilang kamu boleh pulang naik taksi?” balas lelaki yang tidak lain
dan tidak bukan adalah
Shilla tersebut.
“Siapa bilang lo berhak ngelarang gue? Emangnya lo siapa?” Shilla tak mau
kalah. Matanya sudah siap meloncat ke arah lelaki itu.
“Who am I? Aku kan tunangan kamu, sayang. Aku harus ngomong berapa kali,
sih? Hah?”
“Gue gak kenal sama lo. Bisa gak sih lo jauh-jauh dari gue? Gue gak mau
kehilangan semua ingatan gue, tau gak!”
Cakka memandangnya sejenak. Lelaki itu menghela nafas panjang sebelum berkata,
“Never, Shill. Gak bakalan. Aku udah cukup kesiksa selama hampir tujuh
tahun ini. Apa kamu gak mikir gimana perasaanku kalo harus jauh dari kamu
lagi?”
Mendengar kalimat yang dilontarkan dengan lembut tersebut, Shilla sontak menunduk.
Matanya menatap lurus ke arah flat shoes yang dikenakannya hari ini.
Tanpa berniat membalas kata-kata Cakka lagi. Sibuk berjibaku dengan isi
pikirannya sendiri.
“C’mon, aku mau nganter kamu pulang. Kebetulan aku juga lagi istirahat
makan siang. Aku mau makan siang di rumah. Sama kamu,” Cakka mengulurkan
tangannya ke arah perempuan itu. Namun saat Shilla hanya mematung, ia pun
meraih jemari kanannya. Menggenggam, lalu menuntunnya menuju pintu mobil.
Yang ditarik hanya menurut. Tidak ada pilihan lain.
Tidak jauh dari tempat mereka berdua sempat berdebat, berdiri seseorang. Dengan
kemeja putih polos dan rok panjang bermotif garis vertikal putih-pink.
Penuh kecurigaan dan tanda tanya. Milik Angel. “Tunangan?” Tanpa sadar, ia
bergumam sendiri di tengah keramaian.
***
Shilla yang baru saja keluar dari kamarnya sontak tertegun saat tubuhnya hampir
bertabrakan dengan sesosok tubuh atletis yang juga keluar dari pintu di depan
kamarnya. Tubuhnya kembali ia hempaskan ke belakang. Shock.
“What do you do here?” sorak Shilla. Telunjuknya mengacung ke depan
batang hidung mancung di hadapannya.
“Hei, aku tinggal di sini, tau! Amnesia kamu makin parah, ya?” balas Cakka. Ia
memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana pendek yang ia kenakan
sekarang.
Tinggal di sini? Iya, ya? Kemarin kan Ibu udah cerita. Huh! batin
Shilla.
“Udah inget?” Cakka memajukan wajahnya ke arah Shilla.
Sontak, Shilla mundur. Tidak siap dengan serangan mendadak dari lelaki di
depannya ini. Apalagi, tatapan Cakka membuatnya ngeri.
Duk!
Seringai Cakka semakin menjadi saat menyadari tubuh Shilla kini sudah stuck karena
tembok di belakangnya. Ia menikmati ekspresi ketakutan perempuan itu. Sama
seperti wajah yang selalu dipasangnya setiap melihat cacing, ular, atau reptil
lainnya.
“Jangan macem-macem! Kalo enggak, gue bakal teriak! Minggir lo!” ancam Shilla.
Matanya melotot maksimal.
Cakka malah menghabiskan jarak antara mereka. Sehingga hidung mereka pun hampir
bersentuhan saat ini.
“Lo... Lo... Lo mau apa?” Shilla seakan kehilangan semua keberaniannya.
“Kenapa, Shill? Bukannya kamu mau teriak?” balas Cakka. Nafasnya terasa dengan
jelas di permukaan wajah Shilla. “Silakan aja. Rumah ini kan lagi kosong. Ayah
sama Ibu ada tugas di rumah sakit.”
“Hah?” Gak mungkin! Kok Ayah sama Ibu gak pamit sama aku? Mampus, nih! Bisa
habis aku kalo cuma berduaan sama laki-laki gila yang ngaku-ngaku tunanganku
ini!
“Gak jadi teriak, sayang?” tanya Cakka lagi. Ia tersenyum penuh kemenangan.
“Lo jangan macem-macem, ya! Gue bisa lapor polisi! Gue bisa ngasih tau Ayah
sama Ibu kalo lo ngelakuin tindakan pelecehan sama gue. Gue juga bakal lapor
pihak kampus tentang apa yang lo perbuat ke mahasiswi lo sendiri!” ancam
Shilla. Matanya merem-melek. Berusaha menghindari tatapan tajam milik Cakka.
“Kamu mau ngelapor apa? Kamu mau ngomong kalo calon suami kamu kurang ajar,
gitu? Hah?” Cakka tertawa pelan. Kedua telapak tangannya ia tempelkan ke
dinding tempat Shilla bersandar. Mengurung perempuan itu di dalam rengkuhan
tangannya.
Sial! Kenapa aku keliatan konyol gini, sih? Slow, Shilla... Slow...
“Mau lo apa, sih?” Ia terlihat putus asa. Tubuhnya tidak lagi menegang.
Walaupun nafas dan aroma tubuh Cakka masih setia menguasai indra penciumannya.
“Kamu gak nyesel nanyain kemauanku?” Lelaki itu mengerling nakal. “Aku mau
ngulang semua hal yang dulu sering kita lakuin. Yah, kamu pasti tau kan apa aja
itu? Kita udah mau nikah, loh. Jadi semuanya wajar aja, kok.”
Shilla langsung shock. “Maksud lo? Eh, gue kasih tau, ya! Gue itu gak
inget lo siapa. Jadi gak mungkin kalo gue mau–”
Cup!
Sebuah ciuman kilat
mendarat di bibir mungil milik Shilla. Sukses membuatnya bungkam.
Sedangkan Cakka, sang pelaku memilih melepaskan kurungan tangannya dan
melenggang santai meninggalkan Shilla yang masih menganga atas kelakuannya
barusan.
“HEH! SIALAN LO, YA! MAKSUD LO APA NYIUM GUE SEENAKNYA GITU? LO PERNAH DIAJARIN
SOPAN SANTUN GAK, SIH?” sorak Shilla. Kedua tangannya terkepal di samping
tubuh. Mencoba menahan amarah.
Cakka yang berniat menuruni tangga, langsung menghentikan langkahnya. Berbalik,
kemudian menatap Shilla. “Sssttt, calon istri yang baik harus kalem. Kamu nih
amnesianya bener-bener parah. Sampe lupa gimana cara ngomong sama calon suami
sendiri,” ucapnya.
Shilla spontan melongo dibuatnya!
***
“Aaaarrrrggggghhhhhhhh...” Shilla berteriak histeris di dalam kamar. Semua
bantal yang tersusun rapi di atas tempat tidur sudah berserakan akibat
lemparannya. Dan itu semua karena satu nama. Cakka Kawekas Nuraga.
“Aku kena kutukan apa sih, ya Allah? Kenapa hidupku yang tenang, tentram, dan
damai ini jadi berantakan gara-gara lelaki gak jelas itu? Aaarrrggghhhh...”
Untuk ke sekian kalinya, ia histeris lagi. Kali ini, rambut panjangnya yang
indah bahkan ia remas saking stressnya.
Shilla langsung mendekati meja belajarnya. Memandangi sebuah bingkai foto yang
bertengger manis di sana. Foto dengan dirinya dan seorang lelaki. Tangannya
bahkan bergelayut manja di dalam lengan lelaki itu. Lelaki yang tidak lain dan
tidak bukan adalah Cakka.
Pandangannya lalu ia
alihkan ke arah bingkai foto yang lebih besar di atas tempat tidur. Foto yang
memuat dirinya dan Cakka dalam balutan busana formal sambil memperlihatkan
cincin yang tersemat di kedua jari manis mereka. Lengkap dengan senyum lebar.
Hampir di setiap sudut
kamarnya sudah dipenuhi bingkai-bingkai foto beraneka macam –hasil bujukan Ayah
dan Ibu agar Shilla lebih mudah mengingat masa lalunya– yang memperlihatkan
kemesraannya dengan lelaki itu. Lelaki yang tiba-tiba muncul di kehidupannya.
Mengubah hidupnya yang putih menjadi lebih berwarna. Bukan dengan kegembiraan,
namun dengan kerusuhan.
“Gak mungkin! GAK
MUNGKIIIINNN!!!”
***
Cakka tertawa geli saat mendengar teriakan-teriakan dari lantai atas. Tepatnya
dari kamar Shilla. Sebenarnya, ia ingin kembali memasuki kamar tunangannya itu
dan menggodanya seperti tadi.
Tetapi ia langsung mengingat aksinya di depan kamar mereka berdua beberapa
menit yang lalu. Saat ciuman kilat itu berlangsung. Saat alam bawah sadarnya
hampir menuntunnya ke gerakan yang ‘lebih berani’. Saat mereka berdua hampir
melakukan kebiasaan mereka dulu. Dan untungnya, ia segera sadar dan
mengenyahkan pikiran itu jauh-jauh.
“Shilllaaaa, kamu kenapa, sayang? Ada yang bisa aku bantu? Kalo ada, aku ke
kamar kamu sekarang,” teriak Cakka dari atas sofa ruang tengah yang menghadap
ke televisi di depannya.
Hening sesaat.
Cakka mengerutkan dahi. Ia lalu berdiri, berniat ke kamar Shilla untuk
memastikan tunangannya itu baik-baik saja. Namun baru berbalik ke belakang,
tiba-tiba... Buk!
“Auw!” ringis lelaki yang memakai kaos rumah dan celana pendek tersebut sambil
mengelus dahinya.
“Rasain tuh! Makanya jangan main-main sama gue!!!” sorak Shilla seraya berkacak
pinggang. Tawanya pun meledak memandangi bantal dari kamarnya yang tergeletak
di sebelah kaki Cakka. Bantal yang sukses mencium dahi lelaki itu akibat
lemparannya dengan penuh emosi tadi.
“Kamu tega banget sih sama aku? Kepalaku sakit, tau.” Bibir Cakka manyun.
Tangan kanannya masih menempel di keningnya sendiri. Kemudian melangkah
mendekati Shilla sembari terus berusaha menyembunyikan seringai mencurigakan
miliknya.
“Lo–lo mau ap–apa?” Shilla langsung gelagapan melihat tingkah Cakka yang
tiba-tiba mendekatinya. Ia pun mundur ke belakang. Ke arah anak tangga yang
baru saja dilewatinya saat melempari kepala lelaki itu dengan bantal.
“Kamu harus ngobatin aku, dong. Masa lempar bantal sembunyi tangan gitu? Tega
banget sama tunangan sendiri,” sungut Cakka. Langkahnya semakin lebar mendekati
Shilla.
Mendapat serangan mendadak, malah membuat kaki Shilla semakin kaku. Bukannya
berlari kembali ke kamar, ia tetap melangkah mundur. Hingga... Duk! Kedua
kakinya terantuk anak tangga paling bawah. Yang sukses membuatnya jatuh
terduduk di lantai.
“Loh, kamu kenapa, sayang? Jalannya gak liat-liat, sih. Sini aku bantuin,”
Cakka sontak menyodorkan tangan kanannya ke depan wajah Shilla.
Perempuan itu bergeming. Masih shock.
Karena tidak mendapatkan respon apa-apa, Cakka malah membungkuk. Lalu
meletakkan satu tangannya di punggung perempuan itu, sedangkan tangan yang lain
di belakang lututnya. Meraih tubuh Shilla dan menggendongnya menaiki tangga.
“EH, LO APA-APAAN, SIH? GUE BISA JALAN SENDIRI! LO BENER-BENER GAK SOPAN, YA!
TURUNIN GUE! TURUNIIIIINNN!!!” Shilla memberontak di dalam dekapan Cakka.
Kakinya ia gerakkan sekuat tenaga agar lelaki itu menurunkannya. Kedua
tangannya juga memukul-mukul dada Cakka.
“Aku bakal turunin, kok. Tapi di atas tempat tidur kamu,” balas Cakka. Kalem.
Senyum manis masih menghiasi wajahnya. Sepertinya ia sudah melupakan rasa sakit
yang sempat mendera dahinya.
“WHAT? NGAPAIN DI KAMAR GUE? LO MAU NGAMBIL KESEMPATAN LAGI, YA? TURUNIN
SEKARAAAAANG!!!”
DUK! BRUK!
“Auwww!!!” sorak
Shilla sambil mengelus lengan dan pantatnya yang mendarat dengan sukses di atas
tempat tidur. Walaupun spring bed miliknya empuk, tapi ia tetap merasa nyeri.
“Sakit, kan? Padahal
ini udah di atas tempat tidur, loh. Gimana kalo tadi aku nurunin kamu di depan
kamar? Mau?” Cakka melipat kedua tangannya di depan dada.
Shilla hanya mendengus.
Masih sambil mengelus bagian tubuhnya yang nyeri. Tidak mengacuhkan keberadaan
Cakka di sana.
Cakka langsung ikut
duduk di sebelah Shilla. Menatap tunangannya itu dengan prihatin. “Mananya yang
sakit? Sini aku bantu pijitin,” ucapnya, tulus.
“Gak usah! Lo pikir
gue gak tau akal bulus lo yang mesum itu?” tolak Shilla mentah-mentah. “Ngapain
lo duduk di atas tempat tidur gue? Gak sopan banget! Minggir!” Ia menendang
tubuh lelaki di sampingnya tersebut sekuat tenaga. Walaupun sebenarnya tidak
membuahkan hasil karena Cakka yang jelas-jelas lebih kuat daripada dirinya.
“Berisik banget, deh.
Biasanya juga kita tidur bareng,” balas lelaki itu, santai.
“WHAAAAAAT?” Shilla
asli shock. Tubuhnya yang ia yakini masih ‘bersih’jelas tidak mungkin telah
terjamah oleh lelaki. Apalagi laki-laki yang tidak dikenalnya sama sekali.
Cakka tidak
menggubris. Ia malah membaringkan tubuhnya di sisi Shilla. Menghadap ke arah
gadis itu dengan tangan kiri sebagai penyangga kepala. Lengkap dengan senyum
manis yang bisa membuat siapapun terpanah. “Apa kamu mau aku ingetin gimana
cara kita ngehabisin waktu berdua dulu?”
Dahi Shilla sontak
berkerut. Tidak mengerti.
Cakka tidak
menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ia bergeser mendekati Shilla yang duduk di
sebelahnya. Menarik jemari perempuan itu untuk ikut berbaring di sampingnya.
Saking kagetnya,
Shilla hanya menurut. Tanpa curiga apalagi teriakan histeris seperti biasanya.
Namun saat ia menyadari jarak antara dirinya dan Cakka sangat dekat –apalagi di
atas ranjang berdua– kontan membuatnya kelabakan.
“Eittt, mau kemana,
sayang?” Cakka buru-buru mencekal tangan Shilla ketika perempuan itu berniat
bangkit dan membuatnya kembali telentang di sebelah Cakka. “Kamu lupa yah kalo
aku tinggal di sini buat ngebantuin kamu nginget semua tentang kita?”
Deg! Shilla merasa
jantungnya berhenti berdetak. Mendengar suara lembut milik Cakka dan menikmati
aroma mint dari nafasnya. “Lo jangan macem-macem sama gue!” ancamnya. Suaranya
tercekat di tenggorokan gara-gara ulah Cakka.
“Enggak, kok. Cuma
satu macem aja,” balas Cakka. Ia terus mendekatkan wajahnya. Hingga hidung
mancungnya menempel di hidung milik Shila.
Shilla membeku.
Seluruh saraf di dalam tubuhnya seakan tidak berfungsi menerima perlakuan
seperti itu. Terkunci di dalam tatapan Cakka. Mematung karena aroma nafas
segarnya. Tenggelam dalam wangi tubuhnya.
Cakka menikmati
permainan yang ia lakoni. Hingga ia menyadari Shilla semakin pasrah. Bukannya
melawan seperti biasa, perempuan itu malah memejamkan mata saat bibir mereka
sudah nyaris bersentuhan. Dan bukannya melakukan apa yang ia inginkan sedari
tadi, Cakka malah meniup anak rambut yang berantakan di sekitar dahi
tunangannya tersebut.
Shilla sontak membuka
mata. Dahinya sukses dibuat berkerut. Mata bulatnya menatap Cakka yang masih
setia berbaring di sebelahnya. Lekat.
“Kenapa?” tanya Cakka.
Shilla menggeleng. Ia
merutuki Cakka di dalam hati. Mengutuk dirinya yang sudah sangat bodoh bisa
masuk ke dalam perangkap lelaki itu. Tanpa sadar, ia mendengus kesal.
Mengalihkan pandangannya, lalu menyetel wajah cemberut.
“Kamu pasti kecewa kan
karna aku gak nyium kamu?” Cakka tersenyum menggoda sembari mengerlingkan
matanya.
“WHAT? YOU WISH!!!”
balas Shilla. Ia kemudian bangkit dari tempat tidur.
“Mending lo buruan
keluar dari kamar gue. gue gak mau kamar gue terkontaminasi sama badan lo!”
lanjutnya. Lalu meninggalkan kamar. Tidak mau berlama-lama berurusan dengan
lelaki itu.
Di dalam kamar, Cakka
malah tergelak sambil geleng-geleng kepala melihat wajah merah Shilla beberapa
saat yang lalu. “Bahkan pas kamu amnesiapun, kamu tetep berhasil bikin aku
tergila-gila,” lirihnya seraya meninggalkan kamar bernuansa putih tersebut.
*TBC*
Komentar
Posting Komentar