Langsung ke konten utama

Remember Me #3 Versi CakShill




Oleh
 

        Sang dosen tersenyum tipis. “Ternyata selain tidak mempedulikan dosen baru, kamu juga terbiasa mengucapkan gue-elo kepada dosen? Hah?”

            Kali ini, Shilla menganga. “Elo dosen? Jangan becanda, deh! Elo bukannya ke sini buat kerja? Lo bukan dosen, kan?” Ia berdiri dari duduknya. Sukses membuat kelas hening dan semua tatapan mata tertuju ke arahnya.

            “Kamu pikir dosen itu bukan sebuah pekerjaan, saudari Ashilla Zahrantiara?” balas sang dosen. Ia melipat tangannya di depan dada.

            Shilla mendengus. Kesal. Mana mungkin?

            Belum sempat mengeluarkan kalimat selanjutnya, Cakka sudah berjalan ke whiteboard. Lalu menuliskan sesuatu di sana. Dr. Cakka Kawekas Nuraga, S.Ked. “Ini nama lengkap saya. Kalian boleh memanggil saya Dokter Cakka. Tapi kalau kita bertemu di luar wilayah kampus, kalian bisa memanggil saya Kak Cakka. Atau mungkin, ada yang mau menyebut saya ‘elo’ seperti yang dilakukan Shilla?” ucap lelaki berkacamata itu lantang.

            Lagi-lagi, seisi kelas menatap ke arah Shilla yang sudah siap melahap dosen di depannya tersebut. Kedua tangannya sudah terkepal di atas meja.

            “Shill, lo kenal sama dia?” lirih Angel. Agak ngeri dengan ekspresi sahabatnya sekarang.

            “Do you still remember about our conversation a few minutes ago?” Shilla balik bertanya. Tatapannya tetap melekat pada sosok Cakka. “Actually, he’s 
my big problem!”

***

            Shilla melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa. Menyusuri koridor-koridor dari lantai tiga hingga lantai satu gedung fakultasnya. Berharap luput dari pandangan seseorang yang sangat dihindarinya saat ini.

            Saat sudah sampai di parkiran, ia menyempatkan diri menoleh ke tempat Cakka memarkirkan mobilnya tadi pagi. Nihil. Mobil Cakka sudah menghilang. Padahal, bisa dipastikan lelaki itu tidak akan membiarkan Shilla menghindarinya. Tapi akhirnya, Shilla tersenyum lega juga. Tanpa sadar, langkahnya berubah pelan.

            “Tiiiiiiiinnnnnnnnnn!!!” Bunyi klakson mobil yang melengking tinggi sontak mengagetkan Shilla yang sedang berjalan ke arah jalan raya di depan kampus.

            Baru berniat mengomel panjang lebar sambil mengelus dada, ia langsung bungkam.

            “Kenapa? Kaget?” tanya sesosok lelaki yang baru saja turun dari mobil tersebut. “Kamu mau kemana? Daritadi keliatan buru-buru banget. Mau kabur?” lanjutnya. Ia berjalan mendekati  Shilla. Hingga jarak mereka tinggal beberapa sentimeter lagi.

            “Gue bisa pulang naik taksi,” tukas Shilla. Ia memeluk erat-erat buku di genggamannya.

            “Siapa bilang kamu boleh pulang naik taksi?” balas lelaki yang tidak lain 
dan tidak bukan adalah Shilla tersebut.

            “Siapa bilang lo berhak ngelarang gue? Emangnya lo siapa?” Shilla tak mau kalah. Matanya sudah siap meloncat ke arah lelaki itu.

            “Who am I? Aku kan tunangan kamu, sayang. Aku harus ngomong berapa kali, sih? Hah?”

            “Gue gak kenal sama lo. Bisa gak sih lo jauh-jauh dari gue? Gue gak mau kehilangan semua ingatan gue, tau gak!”

            Cakka memandangnya sejenak. Lelaki itu menghela nafas panjang sebelum berkata, “Never, Shill. Gak bakalan. Aku udah cukup kesiksa selama hampir tujuh tahun ini. Apa kamu gak mikir gimana perasaanku kalo harus jauh dari kamu lagi?”

            Mendengar kalimat yang dilontarkan dengan lembut tersebut, Shilla sontak menunduk. Matanya menatap lurus ke arah flat shoes yang dikenakannya hari ini. Tanpa berniat membalas kata-kata Cakka lagi. Sibuk berjibaku dengan isi pikirannya sendiri.

            “C’mon, aku mau nganter kamu pulang. Kebetulan aku juga lagi istirahat makan siang. Aku mau makan siang di rumah. Sama kamu,” Cakka mengulurkan tangannya ke arah perempuan itu. Namun saat Shilla hanya mematung, ia pun meraih jemari kanannya. Menggenggam, lalu menuntunnya menuju pintu mobil.

            Yang ditarik hanya menurut. Tidak ada pilihan lain.

            Tidak jauh dari tempat mereka berdua sempat berdebat, berdiri seseorang. Dengan kemeja putih polos dan rok panjang bermotif garis vertikal putih-pink. Penuh kecurigaan dan tanda tanya. Milik Angel. “Tunangan?” Tanpa sadar, ia bergumam sendiri di tengah keramaian.

***

            Shilla yang baru saja keluar dari kamarnya sontak tertegun saat tubuhnya hampir bertabrakan dengan sesosok tubuh atletis yang juga keluar dari pintu di depan kamarnya. Tubuhnya kembali ia hempaskan ke belakang. Shock.

            “What do you do here?” sorak Shilla. Telunjuknya mengacung ke depan batang hidung mancung di hadapannya.

            “Hei, aku tinggal di sini, tau! Amnesia kamu makin parah, ya?” balas Cakka. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana pendek yang ia kenakan sekarang.

            Tinggal di sini? Iya, ya? Kemarin kan Ibu udah cerita. Huh! batin Shilla.

            “Udah inget?” Cakka memajukan wajahnya ke arah Shilla.

            Sontak, Shilla mundur. Tidak siap dengan serangan mendadak dari lelaki di depannya ini. Apalagi, tatapan Cakka membuatnya ngeri.

Duk!

            Seringai Cakka semakin menjadi saat menyadari tubuh Shilla kini sudah stuck karena tembok di belakangnya. Ia menikmati ekspresi ketakutan perempuan itu. Sama seperti wajah yang selalu dipasangnya setiap melihat cacing, ular, atau reptil lainnya.

            “Jangan macem-macem! Kalo enggak, gue bakal teriak! Minggir lo!” ancam Shilla. Matanya melotot maksimal.

            Cakka malah menghabiskan jarak antara mereka. Sehingga hidung mereka pun hampir bersentuhan saat ini.

            “Lo... Lo... Lo mau apa?” Shilla seakan kehilangan semua keberaniannya.

            “Kenapa, Shill? Bukannya kamu mau teriak?” balas Cakka. Nafasnya terasa dengan jelas di permukaan wajah Shilla. “Silakan aja. Rumah ini kan lagi kosong. Ayah sama Ibu ada tugas di rumah sakit.”

            “Hah?” Gak mungkin! Kok Ayah sama Ibu gak pamit sama aku? Mampus, nih! Bisa habis aku kalo cuma berduaan sama laki-laki gila yang ngaku-ngaku tunanganku ini!

            “Gak jadi teriak, sayang?” tanya Cakka lagi. Ia tersenyum penuh kemenangan.

            “Lo jangan macem-macem, ya! Gue bisa lapor polisi! Gue bisa ngasih tau Ayah sama Ibu kalo lo ngelakuin tindakan pelecehan sama gue. Gue juga bakal lapor pihak kampus tentang apa yang lo perbuat ke mahasiswi lo sendiri!” ancam Shilla. Matanya merem-melek. Berusaha menghindari tatapan tajam milik Cakka.

            “Kamu mau ngelapor apa? Kamu mau ngomong kalo calon suami kamu kurang ajar, gitu? Hah?” Cakka tertawa pelan. Kedua telapak tangannya ia tempelkan ke dinding tempat Shilla bersandar. Mengurung perempuan itu di dalam rengkuhan tangannya.

            Sial! Kenapa aku keliatan konyol gini, sih? Slow, Shilla... Slow... “Mau lo apa, sih?” Ia terlihat putus asa. Tubuhnya tidak lagi menegang. Walaupun nafas dan aroma tubuh Cakka masih setia menguasai indra penciumannya.

            “Kamu gak nyesel nanyain kemauanku?” Lelaki itu mengerling nakal. “Aku mau ngulang semua hal yang dulu sering kita lakuin. Yah, kamu pasti tau kan apa aja itu? Kita udah mau nikah, loh. Jadi semuanya wajar aja, kok.”

            Shilla langsung shock. “Maksud lo? Eh, gue kasih tau, ya! Gue itu gak inget lo siapa. Jadi gak mungkin kalo gue mau–”

            Cup!

Sebuah ciuman kilat mendarat di bibir mungil milik Shilla. Sukses membuatnya bungkam.

            Sedangkan Cakka, sang pelaku memilih melepaskan kurungan tangannya dan melenggang santai meninggalkan Shilla yang masih menganga atas kelakuannya barusan.

            “HEH! SIALAN LO, YA! MAKSUD LO APA NYIUM GUE SEENAKNYA GITU? LO PERNAH DIAJARIN SOPAN SANTUN GAK, SIH?” sorak Shilla. Kedua tangannya terkepal di samping tubuh. Mencoba menahan amarah.

            Cakka yang berniat menuruni tangga, langsung menghentikan langkahnya. Berbalik, kemudian menatap Shilla. “Sssttt, calon istri yang baik harus kalem. Kamu nih amnesianya bener-bener parah. Sampe lupa gimana cara ngomong sama calon suami sendiri,” ucapnya.

            Shilla spontan melongo dibuatnya!

***

            “Aaaarrrrggggghhhhhhhh...” Shilla berteriak histeris di dalam kamar. Semua bantal yang tersusun rapi di atas tempat tidur sudah berserakan akibat lemparannya. Dan itu semua karena satu nama. Cakka Kawekas Nuraga.

            “Aku kena kutukan apa sih, ya Allah? Kenapa hidupku yang tenang, tentram, dan damai ini jadi berantakan gara-gara lelaki gak jelas itu? Aaarrrggghhhh...” Untuk ke sekian kalinya, ia histeris lagi. Kali ini, rambut panjangnya yang indah bahkan ia remas saking stressnya.

            Shilla langsung mendekati meja belajarnya. Memandangi sebuah bingkai foto yang bertengger manis di sana. Foto dengan dirinya dan seorang lelaki. Tangannya bahkan bergelayut manja di dalam lengan lelaki itu. Lelaki yang tidak lain dan tidak bukan adalah Cakka.

Pandangannya lalu ia alihkan ke arah bingkai foto yang lebih besar di atas tempat tidur. Foto yang memuat dirinya dan Cakka dalam balutan busana formal sambil memperlihatkan cincin yang tersemat di kedua jari manis mereka. Lengkap dengan senyum lebar.

Hampir di setiap sudut kamarnya sudah dipenuhi bingkai-bingkai foto beraneka macam –hasil bujukan Ayah dan Ibu agar Shilla lebih mudah mengingat masa lalunya– yang memperlihatkan kemesraannya dengan lelaki itu. Lelaki yang tiba-tiba muncul di kehidupannya. Mengubah hidupnya yang putih menjadi lebih berwarna. Bukan dengan kegembiraan, namun dengan kerusuhan.

“Gak mungkin! GAK MUNGKIIIINNN!!!”

***

            Cakka tertawa geli saat mendengar teriakan-teriakan dari lantai atas. Tepatnya dari kamar Shilla. Sebenarnya, ia ingin kembali memasuki kamar tunangannya itu dan menggodanya seperti tadi.

            Tetapi ia langsung mengingat aksinya di depan kamar mereka berdua beberapa menit yang lalu. Saat ciuman kilat itu berlangsung. Saat alam bawah sadarnya hampir menuntunnya ke gerakan yang ‘lebih berani’. Saat mereka berdua hampir melakukan kebiasaan mereka dulu. Dan untungnya, ia segera sadar dan mengenyahkan pikiran itu jauh-jauh.

            “Shilllaaaa, kamu kenapa, sayang? Ada yang bisa aku bantu? Kalo ada, aku ke kamar kamu sekarang,” teriak Cakka dari atas sofa ruang tengah yang menghadap ke televisi di depannya.

            Hening sesaat.

            Cakka mengerutkan dahi. Ia lalu berdiri, berniat ke kamar Shilla untuk memastikan tunangannya itu baik-baik saja. Namun baru berbalik ke belakang, tiba-tiba... Buk!

            “Auw!” ringis lelaki yang memakai kaos rumah dan celana pendek tersebut sambil mengelus dahinya.

            “Rasain tuh! Makanya jangan main-main sama gue!!!” sorak Shilla seraya berkacak pinggang. Tawanya pun meledak memandangi bantal dari kamarnya yang tergeletak di sebelah kaki Cakka. Bantal yang sukses mencium dahi lelaki itu akibat lemparannya dengan penuh emosi tadi.

            “Kamu tega banget sih sama aku? Kepalaku sakit, tau.” Bibir Cakka manyun. Tangan kanannya masih menempel di keningnya sendiri. Kemudian melangkah mendekati Shilla sembari terus berusaha menyembunyikan seringai mencurigakan miliknya.

            “Lo–lo mau ap–apa?” Shilla langsung gelagapan melihat tingkah Cakka yang tiba-tiba mendekatinya. Ia pun mundur ke belakang. Ke arah anak tangga yang baru saja dilewatinya saat melempari kepala lelaki itu dengan bantal.

            “Kamu harus ngobatin aku, dong. Masa lempar bantal sembunyi tangan gitu? Tega banget sama tunangan sendiri,” sungut Cakka. Langkahnya semakin lebar mendekati Shilla.

            Mendapat serangan mendadak, malah membuat kaki Shilla semakin kaku. Bukannya berlari kembali ke kamar, ia tetap melangkah mundur. Hingga... Duk! Kedua kakinya terantuk anak tangga paling bawah. Yang sukses membuatnya jatuh terduduk di lantai.

            “Loh, kamu kenapa, sayang? Jalannya gak liat-liat, sih. Sini aku bantuin,” Cakka sontak menyodorkan tangan kanannya ke depan wajah Shilla.

            Perempuan itu bergeming. Masih shock.

            Karena tidak mendapatkan respon apa-apa, Cakka malah membungkuk. Lalu meletakkan satu tangannya di punggung perempuan itu, sedangkan tangan yang lain di belakang lututnya. Meraih tubuh Shilla dan menggendongnya menaiki tangga.

            “EH, LO APA-APAAN, SIH? GUE BISA JALAN SENDIRI! LO BENER-BENER GAK SOPAN, YA! TURUNIN GUE! TURUNIIIIINNN!!!” Shilla memberontak di dalam dekapan Cakka. Kakinya ia gerakkan sekuat tenaga agar lelaki itu menurunkannya. Kedua tangannya juga memukul-mukul dada Cakka.

            “Aku bakal turunin, kok. Tapi di atas tempat tidur kamu,” balas Cakka. Kalem. Senyum manis masih menghiasi wajahnya. Sepertinya ia sudah melupakan rasa sakit yang sempat mendera dahinya.

            “WHAT? NGAPAIN DI KAMAR GUE? LO MAU NGAMBIL KESEMPATAN LAGI, YA? TURUNIN SEKARAAAAANG!!!”

            DUK! BRUK!

“Auwww!!!” sorak Shilla sambil mengelus lengan dan pantatnya yang mendarat dengan sukses di atas tempat tidur. Walaupun spring bed miliknya empuk, tapi ia tetap merasa nyeri.

“Sakit, kan? Padahal ini udah di atas tempat tidur, loh. Gimana kalo tadi aku nurunin kamu di depan kamar? Mau?” Cakka melipat kedua tangannya di depan dada.

Shilla hanya mendengus. Masih sambil mengelus bagian tubuhnya yang nyeri. Tidak mengacuhkan keberadaan Cakka di sana.

Cakka langsung ikut duduk di sebelah Shilla. Menatap tunangannya itu dengan prihatin. “Mananya yang sakit? Sini aku bantu pijitin,” ucapnya, tulus.

“Gak usah! Lo pikir gue gak tau akal bulus lo yang mesum itu?” tolak Shilla mentah-mentah. “Ngapain lo duduk di atas tempat tidur gue? Gak sopan banget! Minggir!” Ia menendang tubuh lelaki di sampingnya tersebut sekuat tenaga. Walaupun sebenarnya tidak membuahkan hasil karena Cakka yang jelas-jelas lebih kuat daripada dirinya.

“Berisik banget, deh. Biasanya juga kita tidur bareng,” balas lelaki itu, santai.

“WHAAAAAAT?” Shilla asli shock. Tubuhnya yang ia yakini masih ‘bersih’jelas tidak mungkin telah terjamah oleh lelaki. Apalagi laki-laki yang tidak dikenalnya sama sekali.

Cakka tidak menggubris. Ia malah membaringkan tubuhnya di sisi Shilla. Menghadap ke arah gadis itu dengan tangan kiri sebagai penyangga kepala. Lengkap dengan senyum manis yang bisa membuat siapapun terpanah. “Apa kamu mau aku ingetin gimana cara kita ngehabisin waktu berdua dulu?”

Dahi Shilla sontak berkerut. Tidak mengerti.

Cakka tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ia bergeser mendekati Shilla yang duduk di sebelahnya. Menarik jemari perempuan itu untuk ikut berbaring di sampingnya.

Saking kagetnya, Shilla hanya menurut. Tanpa curiga apalagi teriakan histeris seperti biasanya. Namun saat ia menyadari jarak antara dirinya dan Cakka sangat dekat –apalagi di atas ranjang berdua– kontan membuatnya kelabakan.

“Eittt, mau kemana, sayang?” Cakka buru-buru mencekal tangan Shilla ketika perempuan itu berniat bangkit dan membuatnya kembali telentang di sebelah Cakka. “Kamu lupa yah kalo aku tinggal di sini buat ngebantuin kamu nginget semua tentang kita?”

Deg! Shilla merasa jantungnya berhenti berdetak. Mendengar suara lembut milik Cakka dan menikmati aroma mint dari nafasnya. “Lo jangan macem-macem sama gue!” ancamnya. Suaranya tercekat di tenggorokan gara-gara ulah Cakka.

“Enggak, kok. Cuma satu macem aja,” balas Cakka. Ia terus mendekatkan wajahnya. Hingga hidung mancungnya menempel di hidung milik Shila.

Shilla membeku. Seluruh saraf di dalam tubuhnya seakan tidak berfungsi menerima perlakuan seperti itu. Terkunci di dalam tatapan Cakka. Mematung karena aroma nafas segarnya. Tenggelam dalam wangi tubuhnya.

Cakka menikmati permainan yang ia lakoni. Hingga ia menyadari Shilla semakin pasrah. Bukannya melawan seperti biasa, perempuan itu malah memejamkan mata saat bibir mereka sudah nyaris bersentuhan. Dan bukannya melakukan apa yang ia inginkan sedari tadi, Cakka malah meniup anak rambut yang berantakan di sekitar dahi tunangannya tersebut.

Shilla sontak membuka mata. Dahinya sukses dibuat berkerut. Mata bulatnya menatap Cakka yang masih setia berbaring di sebelahnya. Lekat.

“Kenapa?” tanya Cakka.

Shilla menggeleng. Ia merutuki Cakka di dalam hati. Mengutuk dirinya yang sudah sangat bodoh bisa masuk ke dalam perangkap lelaki itu. Tanpa sadar, ia mendengus kesal. Mengalihkan pandangannya, lalu menyetel wajah cemberut.

“Kamu pasti kecewa kan karna aku gak nyium kamu?” Cakka tersenyum menggoda sembari mengerlingkan matanya.

“WHAT? YOU WISH!!!” balas Shilla. Ia kemudian bangkit dari tempat tidur.  
“Mending lo buruan keluar dari kamar gue. gue gak mau kamar gue terkontaminasi sama badan lo!” lanjutnya. Lalu meninggalkan kamar. Tidak mau berlama-lama berurusan dengan lelaki itu.

Di dalam kamar, Cakka malah tergelak sambil geleng-geleng kepala melihat wajah merah Shilla beberapa saat yang lalu. “Bahkan pas kamu amnesiapun, kamu tetep berhasil bikin aku tergila-gila,” lirihnya seraya meninggalkan kamar bernuansa putih tersebut.







*TBC*









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remember Me #1 Versi CakShill

Oleh Andi Febrianti Pratiwi TUNANGAN? Karena cinta... Tidak akan pernah saling melupakan. Shilla keluar dari gedung Fakultas Kedokteran dengan setumpuk buku di genggamannya. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Dia harus buru-buru pulang ke rumah supaya bisa menyelesaikan semua tugas yang akan dikumpulkannya besok pagi.             Tiba-tiba, seorang lelaki tinggi, berkulit kecoklatan, berkacamata dengan kemeja kotak-kotak berwarna putih serta celana panjang jeans hitam yang baru saja turun dari mobil silver langsung menghampirinya.             “SURPRISEEEEE!!!” sorak lelaki itu sambil tersenyum manis dan merentangkan kedua tangannya. Tepat di hadapan Shilla.             Shilla menatapnya dengan dahi berkerut. “Lo siapa?” herannya. Merasa aneh dengan tingkah lelaki tersebut.  ...

Remember Me #9 Versi CakShill

Oleh Andi Febrianti Pratiwi “Kamu ngomong apa, sih?” sorak Cakka, meluapkan emosinya. Seharian ini ia sudah dibuat stress gara-gara masalah rumah sakit, kampus, mobil mogok, Shilla tiba-tiba menghilang dan pulang bersama Rio, sekarang apa lagi? Perempuan itu membatalkan pertunangan? Apa tidak cukup masalahnya seharian ini? “Pertunangan ini gak bisa aku lanjutin lagi,” balas Shilla. “Maafin aku selama ini.” “Shilla, please... Kamu kenapa? Oke, aku minta maaf. Kamu boleh nyuruh aku apa aja. Kamu boleh mukul aku sampe babak belur sekalipun, tapi kamu jangan mutusin sesuatu dengan gampang!” Cakka membekap kepalanya sendiri. Membuat rambutnya yang sudah menutupi telinga jadi berantakan. Perempuan itu terdiam. “Asal kamu tau, kita udah tunangan enam tahun ini. Kamu pikir gampang memutuskan semuanya dalam waktu beberapa menit aja? Hah?” seru Cakka, frustasi. “Aku gak inget apapun tentang kamu.” “Iya, aku tau! Trus kamu pikir aku bakal nerima keputusan ka...

Remember Me #ENDING Versi CakShill

Oleh Andi Febrianti Pratiwi             Rio menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. “Udahlah, Ngel... Kalo lo nangis gitu, bagus kalo Shilla langsung bangun. Ini malah bikin sakit kepala, tau!” Angel semakin sesenggukan. “Lo gak ngerti perasaan gue. Gue udah hampir empat taun sahabatan sama Shilla. Gue gak tega ngeliat dia tiba-tiba koma dan penuh luka kayak gini. Hiks...” Lelaki dengan sweater putih tersebut mendesah frustasi. “Gue pernah pacaran sama dia waktu SMP. Which is sembilan tahun yang lalu,” ucapnya. “Lagian, kita di sini bukan buat sedih-sedihan. Harusnya kita doain Shilla biar cepet sembuh. Itu yang paling dia butuhin. Gue juga yakin, pelayanan di rumah sakit ini yang terbaik.” Perempuan berlesung pipi itu tetap menangis. Walau tak sekeras tadi. “Rio bener, Ngel. Shilla butuh doa dari kita semua, sementara dokter di sini mengusahakan yang terbaik buat dia.” Cakka ikut menatap na...